Warga Mundu Pesisir Minta Warung Maksiat JONGOR Ditertibkan

Warga Mundu Pesisir Minta Warung Maksiat JONGOR Ditertibkan

383
0
BERBAGI
Warung remang-remang Jongor di wilayah desa Mundu Pesisir Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon.

CIREBON (rq) – Keberadaan belasan warung remang-remang yang berada di Blok Kalijaga, Desa Mundu Pesisir, Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon dikeluhkan warga setempat.

Pasalnya, selain kerap dijadikannya tempat kegiatan prostitusi, warung remang dengan sebutan jongor tersebut juga diduga digunakan untuk menjual minuman keras (miras).

Warga beralasan, jika terus dibiarkan hal tersebut dapat berdampak negatif terhadap akhlak dan moral anak-anak dan lingkungan sekitar, serta nama baik Desa Mundu Pesisir.

Ironisnya, para pemilik warung dan pelaku prostitusi tersebut didominasi warga pendatang dari luar Kota/Kabupaten Cirebon, bahkan terdapat dari luar pulau.

Ketua RT 04 RW 08 Desa Mundu Pesisir, Wihainu kepada Republiqu mengatakan, sebelumnya warga setempat sudah melakukan aksi protes kepada pemilik warung dari beberapa tahun lalu.

“Sebetulnya sih, sudah lama mereka ada disitu. Kami juga bukan kali ini saja melakukan peneguran. Namun tidak ada hentinya mereka seperti itu, tetap melakukan kegiatan prostitusi dan menjual miras,” ungkap Wihainu saat ditemui dikediamannya, Kamis, (25/06/2020).

Belum lama ini, warga setempat dengan pihak Desa, Kecamatan, dan unsur keamanan setempat, berserta para pemilik warung telah melakukan mediasi dengan hasil kesepakatan untuk segera menghentikan kegiatan tersebut dan diberi waktu selama satu pekan untuk membongkar bilik-bilik kamar yang kerap dijadikan praktek prostitusi. Ia mengaku geram, meski sudah diberi peringatan keras, beberapa dari mereka masih buka dan melayani tamu.

“Minggu yang lalu sudah mediasi mas di Desa. Keputusannya sampai hari ini, cuma nggak tau. Ada sekitar dua belas warung. Tapi sekarang kayaknya ada tiga warung masih buka, masih melayani,” bebernya.

Selain itu, dikatakannya, tanah yang digunakan tersebut adalah milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung.

“Seharusnya mereka berterimakasih kepada pemerintah, dengan tidak berbuat seperti itu. Karena mereka membangun, bangunan tanahnya milik BBWS,” pungkasnya.

Berdasarkan investigasi awak media, dalam perbincangan dengan salah satu terduga pelaku prostitusi dilokasi tersebut, pelaku mengaku terpaksa bekerja sebagai pekerja sex komersial (PSX) demi  menghidupi anaknya yang masih berusia 12 tahun lantaran ditinggal pergi suaminya.

Sementara ini, karena adanya teguran dari warga dan pemerintah, ia memilih buka pelayan dari pagi hingga sore hari. Selain itu, ia juga mengaku mengontrak tempat tersebut kepada salah satu warga sekitar.

“Saya kerja disini karena ditinggal suami, akhirnya terpaksa mencari nafkah dengan cara seperti ini. Tetapi karena beberapa hari yang lalu ada aksi, maka saya melayani tamu hanya dari pagi hingga menjelang magrib, dan malamnya tidak menerima tamu. Saya ngontrak tempat ini kepada pemilik warga sekitar seharga Rp 800.000 perbulan,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Kuwu Desa Mundu Pesisir, Maria, saat dikonfirmasi media via telefon selluler mengatakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Satpol-PP Kabupaten Cirebon untuk melakukan tindakan lebih lanjut.

“Kami akan melakukan koodinasi dengan Satpol PP Kabupaten Cirebon. InsyaAllah, besok akan dilakukan penertiban, sesuai Surat Pernyataan yang telah dibuat dan disepakati bersama,” katanya singkat. (on)

LEAVE A REPLY

4 × four =