Syukuran Buka Panggung, PEPADI Gelar Pertunjukan Wayang Kulit

Syukuran Buka Panggung, PEPADI Gelar Pertunjukan Wayang Kulit

299
0
BERBAGI
Pagelaran wayang purwa dengan melibatkan 4 dalang bentuk syukuran dicabutnya larangan hiburan oleh pemerintah Kabupaten Cirebon.

CIREBON (rq) – Setelah berakhirnya PSBB dan dicabutnya larangan hiburan oleh Bupati Cirebon, Persatuan Pedalangangan Indonesia (PEPADI), Kabupaten Cirebon menggelar tasyakuran pagelaran Wayang Kulit Purwa satu malam suntuk, dengan menghadirkan 4 dalang yang berbeda dengan mengangkat judul “Windu Sejati”, Sabtu (18/7/2020).

Bertempat di area parkir Pasambangan Astana Gunung Jati Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon, di hadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, perwakilan Keraton Kacirebonan, anggota Pepadi Kabupaten Cirebon dan beberapa tamu undangan yang lain.

Ketua PEPADI Kabupaten Cirebon, Sudarso Warsinta mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk tasyakuran para dalang setelah dicabutnya larangan izin pementasan para seniman oleh Bupati Cirebon.

“Alhamdulillah dengan dicabutnya larangan izin ini, kami para seniman jelas sangat senang sekali. Sehingga kedepan kami bisa aktifitas kembali. Para seniman bisa bekerja kembali dan mendapatkan penghasilan kembali, tidak sengsara kembali,” terangnya.

Dirinya juga menjelaskan, dengan adanya Covid dan adanya larangan hiburan dari pemerintah, jelas hal tersebut dampaknya sangat dirasakan oleh para seniman.

“Sejak awal pandemi ini, dampaknya sangat luas bagi kami selaku para pelaku seni. Sementara yang lain, masih aktivitas seperti pedagang, petani, nelayan dan yang lainnya, masih boleh menjalankan aktivitasnya. Namun kami tidak bisa, sehingga hal itu membuat kami mati kutu,” jelasnya.

Sudarso juga menambahkan, sebelum pementasan wayang akan diawali acara kidungan tasyakuran para dalang, kemudian pagelaran tari topeng dan ditutup pagelaran wayang kulit Purwa yang akan di bawakan 4 dalang muda dengan lakon Windu Sejati.

“Mudah-mudahan dengan adanya tasyakuran ini, para dalang, para seniman dapat kembali bangkit. Kepada pemerintah kami meminta adanya perhatian, khusus kami para pelaku seni,” tambahnya.

Sementara itu, R. Udin Kaenudin selaku pembina PEPADI Kabupaten Cirebon merasa bangga dengan adanya kekompakan para dalang dan sinden tersebut untuk melaksanakan syukuran dengan dicabutnya larangan hiburan ini.

“Dengan acara ini artinya di sini ada rasa kebersamaan, rasa senasib sepenanggungan dari para dalang dan insan seni lainnya. Acara sendiri digelar di Astana Gunung Jati, yang istilahnya kami meminta barokah dari Kanjeng Sunan Gunung Jati. Selain itu saya atasnama keluarga atau kerabat Keraton juga merasa bangga seni budaya wayang ini masih lestari di Cirebon. Oleh karena itu, ini harus ada perhatian dari seluruh pihak,” terangnya.

Selain itu, ia juga merasa sedih dengan nasib para Seniman, Budayawan, terutama para Dalang dan Panjak serta para sinden yang selama masa pandemi ini tidak pernah manggung.

“Mending kalau mereka memiliki usaha lain tentunya bisa membantu. Tapi kalau cuma mengandalkan hanya dari seni saja, ini jelas mati kutu. Oleh karena itu, kita terimakasih dan bersyukur pada pihak pemerintah yang telah mencabut larangan hiburan. Sehingga bisa manggung lagi, bisa aktivitas lagi namun tetep menggunakan protokoler kesehatan,” lanjutnya.

Udin Kaenudin juga berharap, adanya perhatian khusus dari pemerintah Kabupaten Cirebon, terkait pembinaan para seniman terutama menciptakan regenerasi para panjak wayang.

“Kalau bicara dalang, saya kira regenerasinya sudah jalan dengan bukti sudah banyaknya dalang-dalang muda. Namun yang paling urgent itu justru para panjak, terutama pengendang dan penyuling. Oleh karena itu, kami berharap kepada semua elemen terutama leading sektor DISBUDPARPORA Kabupaten Cirebon, ada pembinaan kepada jurukawi atau panjak terutama pengendang dan penyuling,” harapnya. (ta)

LEAVE A REPLY

8 − 6 =