SMPN 1 Karangsembung “Keluarkan” Siswa Diduga Berkebutuhan Khusus

SMPN 1 Karangsembung “Keluarkan” Siswa Diduga Berkebutuhan Khusus

5797
0
BERBAGI
SMPN 1 Karangsembung yang berlokasi di Jl. Karangsuwung No.29 Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon.

CIREBON (R) – Memiliki anak yang cerdas dan pandai tentu menjadi mimpi semua orang tua di seluruh dunia. Mereka yang sayang dan peduli dengan masa depan anaknya, tentu akan berusaha sekuat tenaga agar anaknya bisa menempuh pendidikan yang baik dan layak di tempat pendidikan yang formal.

Hal itu pun disadari oleh Suryana Budiman, selaku orang tua mantan siswa SMPN 1 Karangsembung Kabupaten Cirebon berinisial A, yang belum lama ini diduga “dikeluarkan” oleh pihak sekolah. Tindakan tersebut lantaran siswa bernama A dianggap pihak sekolah tidak mampu mengikuti pelajaran dan kerap membuat kegaduhan di lingkungan sekolah.

Kepada Republiqu, Suryana mengungkapkan anaknya baru menempuh pendidikan sekitar enam bulan di SMPN 1 Karangsembung atau kurang lebih satu semester. Selama menempuh pendidikan itu, Suryana mengakui pihak sekolah sempat beberapa kali memanggilnya untuk datang ke sekolah. Hal tersebut dikatakannya berkaitan dengan perkembangan pendidikan anaknya di sekolah tersebut dan beberapa masalah lainnya.

“Memang tadinya anak saya bersekolah di SMPN 1 Karangsembung. Tapi baru enam bulan, katanya pihak sekolah tidak mampu lagi mendidik anak saya karena beberapa masalah. Akhirnya perwakilan pihak sekolah datang kerumah dan mengembalikan berkas anak saya. Tapi bahasanya bukan mengeluarkan. Istri saya cuma disuruh pihak sekolah tanda tangan surat pengunduran diri anak saya yang disiapkan oleh pihak sekolah,” terangnya, Selasa (28/1/2020).

Suryana mengaku, tidak ada yang aneh dari keseharian anaknya selama dirumah. Masalah pelajaran disekolahnya pun, anaknya A, tidak pernah bercerita apapun ke orang tuanya. Ia menganggap semuanya wajar seperti anak – anak lainnya. Suryana mengatakan anaknya normal dan bukan termasuk anak berkebutuhan khusus. Hanya saja ia mengaku, saat sekolah dasar (SD) anaknya si A pernah tidak naik kelas selama 2 tahun.

“Jika disebut berkebutuhan khusus, anak saya bisa ngaji. Teman main dirumahnya juga banyak mas. Jadi berkebutuhan khususnya dimana. Kalau soal kenakalan, mungkin itu pengaruh dari luar. Saya juga tetap mendidik kok. Kalo ketahuan salah, ya saya hukum. Saya marahi. Saya nasehati. Jadi saya juga tetap memantau pergaulan anak saya diluar mas,” ucapnya.

Terkait perkembangan pendidikan anaknya disekolah, Suryana mengaku tidak terlalu ketat mengatur apalagi mendikte soal pelajaran. Ia khawatir jika terlalu ketat, anaknya akan tertekan dan malah sulit untuk bersoalisasi dengan lingkungan disekitarnya. Selain itu, ia juga mengaku sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga untuk urusan pendidikan anak, ia menyerahkan sepenuhnya kepada istrinya dirumah.

“Sebenarnya yang tahu lebih banyak perkembangan anak ya ibunya. Saya kan diluar rumah mas, posisinya kerja. Jadi persoalan anak yang ngurusin, ya ibunya yang dirumah. Tapi saya juga tidak lepas gitu ajah mas, tetap dipantau mah. Apalagi tau sendiri pergaulan anak jaman sekarang seperti apa. Kalau soal pelajaran saya kurang paham. Makanya tujuan disekolahkan itu kan supaya pintar. Bener gak sih mas,” jelasnya.

Terkait tindakan sekolah tersebut, Suryana menilai pihak sekolah sudah tidak mau lagi mendidik anaknya bersekolah di SMPN 1 Karangsembung. Dikatakannya, itu disampaikan pihak sekolah secara tersirat lewat bahasa halus, yang disampaikan kepada istrinya. Bahkan saat itu menurutnya, pihak sekolah juga menunjukkan hasil nilai pelajaran anaknya yang isinya nol dan tidak bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan disekolahnya.

“Waktu pihak sekolah datang kerumah mengembalikan berkas, cuma ada istri saya. Pihak sekolah minta tanda tangan istri saya untuk mengundurkan diri dari sekolah. Pas saya datang kerumah, berkas itu justru sudah ditanda tangani tanpa persetujuan dari saya. Padahal saya selaku kepala rumah tangganya. Dibenarkan tidak seperti itu tuh mas,” paparnya.

Terkait permasalahan tersebut, Suryana mengaku akan terus memperjuangkan hak anaknya. Ia menginginkan permasalahan tersebut, diusut sampai tuntas agar tidak terjadi lagi persoalan seperti itu di kemudian hari. Suryana meminta kepada pihak sekolah melakukan seleksi lebih ketat saat penerimaan siswa baru. Agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi dan mencoreng wajah pendidikan di Kabupaten Cirebon.

“Alhamdulillah sekarang anak saya sudah bersekolah lagi di MTs mas. Tapi kalau saya boleh usul, seharusnya pihak sekolah SMPN 1 Karangsembung menambahkan aturan persyaratan yang jelas pada saat penerimaan siswa baru. Anak bodoh dilarang bersekolah di SMPN 1 Karangsembung. Begitu kan jelas mas. Jadi anak – anak yang bersekolah disekolah itu, khusus anak yang pintar saja, yang bodoh gak usah sekolah, mending angon wedus (gembala kambing) saja,” pungkasnya. (is)

LEAVE A REPLY

10 − 8 =