Sayangkan Statement Hermanto, KH Badruddin : Hargailah Kiyai

Sayangkan Statement Hermanto, KH Badruddin : Hargailah Kiyai

760
0
BERBAGI
KH Bahruddin Hambali, Ketua PC RMI Kabupaten Cirebon.

CIREBON (rq) – Sehubungan dengan adanya isu kepesantrenan yang bergulir dan masif di wilayah Kabupaten Cirebon, Pengurus Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PC RMI NU) Kabupaten Cirebon, menggelar diskusi dengan beberapa lembaga forum pesantren yang ada di wilayah Kabupaten Cirebon, Minggu (5/7/2020).

Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama Kabupaten Cirebon, KH Badruddin Hambali mengaku kaget dengan adanya statement dari salah satu anggota dewan Kabupaten Cirebon tersebut. Ia mengira selama ini yang bersangkutan paham betul terkait pesantren. Bahkan ia menduga bahwa dengan peristiwa tersebut, ternyata yang bersangkutan gagal paham terkait kepesantrenan.

“RMI menilai ada kekhawatiran, bahwa pesantren ini dijadikan alat dan dijadikan komoditas politik. Maka dari itu, kami perlu melakukan klarifikasi kesana kemari. Semestinya dewan itu memperjuangkan adanya undang-undang pesantren. Harusnya dewan itu ngomong tentang itu. Bukan ngomong yang kurang baik soal pesantren, hargailah para kiyai,” terangnya kepada awak media.

Dirinya menjelaskan, persoalan tersebut berpotensi menimbulkan permasalahan. Maka dari itu, pihaknya belum bisa menyatakan tanggapan secara resmi terkait persoalan tersebut. Pihaknya juga sengaja mengundang beberapa stakeholder pesantren yang ada di Kabupaten Cirebon, karena menurutnya organisasi yang menaungi pesantren bukan hanya RMI saja.

“Hari ini saya undang, saya kumpulkan atas nama NU, atas nama RMI untuk bersama membahas persoalan itu. Kok bisa seorang dewan sampai berbicara seperti itu. Dan nampaknya hal tersebut di lapangan menghangat. Hampir ada puluhan kiyai yang sudah menghubungi saya dan juga ada beberapa gus-gus se Cirebon yang silaturahmi ke RMI, untuk menanyakan sikap dari RMI terkait persoalan tersebut,” jelasnya

KH Baddrudin juga memaklumi adanya ketersinggungan dari beberapa kalangan terkait persoalan tersebut. Ia meminta untuk tetap sabar. Namun ia juga mengaku tidak bisa menghalang-halangi apabila ada pergerakan yang timbul akibat imbas persoalan itu.

“Kami orang tua, kami RMI tidak bisa sembarang memutuskan. Sebab bila hari ini kita putuskan dan akhirnya menggemparkan pesantren, maka bukan hanya Cirebon, tetapi se Indonesia yang masalah kalau memang judulnya pesantren. Baru kali ini saya berstatement, karena kami sudah melakukan beberapa penelitian terkait hal itu. Cuma tetap kami belum punya sikap dan belum punya tanggapan resmi dari RMI NU,” lanjutnya.

Ia juga mengakui, agenda rapat tersebut masih dalam rangka mencari masukan dari beberapa organisasi pesantren yang ada, untuk menentukan sikap. Diakuinya, sikap tersebut juga tidak hanya untuk Kabupaten Cirebon saja, namun akan disampaikan juga kepada PBNU pusat yang ada di Jakarta.

“Saya pribadi sebagai orang tua mendoakan, semoga yang bersangkutan niatnya itu baik. Mudah-mudahan akan memberikan kebaikan untuk kita semua, khususnya para pesantren. Yang pasti, sampai saat ini pesantren merasa tersinggung dengan pernyataan yang di sampaikan Hermanto itu. Karena pesantren itu usianya ratusan, bahkan ribuan tahun sudah berdiri. Sangat disayangkan pesantren di banding-bandingkan dengan yang lain, itukan tidak etis,” pungkasnya. (ta)

LEAVE A REPLY

19 − five =