Niat Audensi Pembentukan BPD, Warga Desa Surakarta Diduga Dianiaya

Niat Audensi Pembentukan BPD, Warga Desa Surakarta Diduga Dianiaya

1339
0
BERBAGI
Riko salah satu warga Desa Surakarta yang saat itu juga ikut dalam rencana acara audensi dengan pemerintah desa Surakarta.

CIREBON (rq) – Salah satu perangkat Desa Surakarta, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat berinisial WD dilaporkan ke Polres Cirebon Kota karena diduga melakukan tindak kekerasan penganiayaan terhadap salah satu warganya yang berinisial SY, Sabtu malam 20 Juli 2020.

Riko salah satu warga Desa Surakarta mengatakan, kronologis kejadian tersebut bermula dari adanya ketidakpuasan beberapa warga kepada panitia pembentukan Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) Surakarta, lantaran diduga tidak sesuai prosedur dalam melaksanakan pembentukan BPD.

“Jum’at 24 Juli 2020, Kami mengirimkan surat kepada panitia pembentukan BPD yang berisi sebuah permintaan audiensi, kemudian mendapat kesepakatan pada Sabtu malam, 25 Juli 2020 pukul 20.30 WIB, permintaan audiensi tersebut diselenggarakan di balai Desa Surakarta,” Ujar Riko kepada Republiqu.com disalah satu dinas Pemerintah Kabupaten Cirebon, Selasa (18/8/2020).

Menurut Riko, bersama beberapa warga lainnya, ia datang ke balai desa bertujuan untuk beraudiensi terkait hal tersebut. Setibanya di balai desa, pihaknya duduk di aula gedung serbaguna Desa Surakarta, kemudian di hampiri salah satu panitia dan berselang beberapa menit, datang sekelompok pemuda yang diduga tidak diundang dalam acara tersebut. Kemudian, Lanjut Riko, Kuwu Desa Surakarta (H. Sugiri) bersama perangkat Desa, datang dengan muka masam dan tegang lalu menghampiri dirinya bersama temannya Andre sambil berteriak.

“Saya diadu oleh pak kuwu sama keponakannya, saya jawab siap karena saya pikir akan beradu argumentasi. Tapi kok malah ngangkat badan saya dan nyuruh keponakannya (Jamal) untuk berantem sama saya,” Beber Riko dengan raut wajah kecewa.

Dikatakan Riko, suasana pada saat itu semakin memanas, sehingga ia berasama warga lainnya memutuskan untuk pulang membubarkan diri. Namun kuwu dan perangkat desa semakin naik pitam, sehingga diduga terjadi tindak kekerasan dan pengancaman.

“Entah maksudnya melerai apa ikut terpancing marah, sehingga juragan Wardi mencengkeram Sunaryo sampai luka bared dan mendorongnya. Kemudian saya dan yang lain pulang, tapi diancam akan dibelah kepalanya,” tuturnya.

Riko menyayangkan, tindakan tersebut seharusnya tidak dilakukan oleh seorang kepala desa atau kuwu. Setelah kejadian tersebut pihaknya mengaku pergi ke salah satu rumah sakit di Kota Cirebon, guna melakukan pengobatan sekaligus visum dan kemudian melaporkannya ke Kepolisian.

“Sunaryo dibawa ke Rumah Sakit Gunung Jati (RSGJ) supaya langsung diobati dan sekalian visum, terus langsung laporan ke Mapolres Cirebon Kota,” kata Riko.

Ia berharap, persoalan tersebut segera di proses lebih lanjut, mengikuti proses aturan hukum yang berlaku. Sehingga dapat memberikan efek jera serta dapat meningkatkan rasa percaya masyarakat terhadap ketegasan pihak Kepolisian.

“Perlakuan arogansi pelayan publik di jaman sekarang, sudah tidak tepat. Apalagi arogansi untuk menutupi perlakuan diluar aturan yang ada. Kami masyarakat Desa Surakarta berharap agar proses hukum segera ditegakkan agar ada efek jera,” pungkas Riko.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi awak media belum lama ini, Kepala Desa atau Kuwu Surakarta H. Sugiri sedang tidak berada di tempat kerjanya.

Saat di konfirmasi media melalui aplikasi pesan instan telepon selluler terkait kebenaran hal tersebut pun, tidak memberikan jawaban apapun.

“Pak Kuwunya tidak ada, belum datang,” ujar singkat, salah satu perangkat desa, Selasa (18/8/2020). (on)

LEAVE A REPLY

fifteen − 9 =