GMBI Minta Pelaku Pemerkosaan Disabilitas Di Talun Segera Ditahan

GMBI Minta Pelaku Pemerkosaan Disabilitas Di Talun Segera Ditahan

1060
0
BERBAGI
Ketua KSM GMBI Kecamatan Talun, bang Ade Bewok, saat berkunjung ke rumah korban pemerkosaan Disabilitas di wilayah Kecamatan Talun.

CIREBON (rq) – Prihatin atas musibah yang menimpa AN, Disabilitas korban pemerkosaan di Kecamatan Talun, Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (LSM GMBI) Cirebon Raya KSM Talun, turun tangan ikut melakukan pendampingan atas Kasus Pemerkosaan yang dilakukan oleh CY alias Garong, yang juga masih tetangga korban.

Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) GMBI Kecamatan Talun Distrik Cirebon Raya, yang biasa disapa Ade Bewok mengatakan, kasus Pemerkosaan Disabilitas ini bukanlah kasus biasa. Ia menilai, perbuatan keji itu adalah perbuatan iblis yang dilakukan oleh manusia dan pantas di hukum seberat-beratnya.

“Manusia macam apa yang melakukan perbuatan keji seperti itu. Perbuatannya seperti iblis. Seorang perempuan berkebutuhan khusus yang mestinya dilindungi, justru oleh pelaku dimanfaatkan untuk melampiaskan nafsu bejatnya. Korban Disabilitas ini diperkosa dan diancam akan dibunuh. Dimana rasa pri kemanusiaannya,” ujar Ade Bewok kepada awak media, Senin (12/10/2020).

Dikatakan Ade, kasus yang saat ini masih bergulir di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kota Cirebon yang dilaporkan pada 4 Agustus 2020 tersebut, diharapkan bisa segera di meja hijaukan dengan ancaman hukuman maksimal dan seberat-beratnya.

“Menurut kesaksian keluarga korban, pelaku pemerkosaan ini tidak ditahan oleh pihak penyidik Polresta Cirebon. Bahkan masih bebas berkeliaran. Dalih yang digunakan penyidik, katanya sih pelaku belum ditetapkan tersangka. Alasannya, kesaksian korban dan pelaku berbeda. Ada apa dengan penyidik, kok kesannya ragu-ragu menetapkan status tersangka,” ujarnya.

Menurut Ade, sebagai Ketua KSM GMBI Kecamatan Talun, pihaknya akan mendukung kepolisian untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut. Ia berharap dan yakin, pihak penyidik dapat bekerja profesional dan objectif dalam melihat bukti – bukti yang ada.

“Menurut kesaksian ibu kandung korban, anaknya tertular penyakit dari pelaku. Itu sudah diperiksakan. Hasil visumnya juga sudah diberikan ke penyidik. Tapi sampai saat ini, pelaku masih bebas berkeliaran. Tidak ada penahanan bagi pelaku pemerkosaan itu. Padahal korbannya ada, cuma tidak bisa bicara dan mendengar,” paparnya.

Terkait adanya tawaran dari pihak keluarga pelaku, untuk dinikahkan dengan korban, menurut Ade, itu adalah penyesalan yang terlambat. Pasalnya, tawaran itu muncul justru setelah kasus ini mencuat dan dilaporkan ke Polresta Cirebon.

“Keluarga korban ini kasihan. Anaknya dilecehkan seperti binatang. Giliran menuntut keadilan, malah minta dinikahkan. Sungguh kejam. Korban saja ketakutan melihat pelaku, sampai sekarang masih trauma. Belum lagi sekarang mengandung anak pelaku, tambah berat lagi penderitaannya,” terang Ade.

Advertorial

Melihat adanya tawaran tersebut, Ade berharap pihak penyidik tidak menjadikan itu sebagai pertimbangan hukum. Pasalnya, Ade menduga, ada niat yang tidak tulus dibalik penawaran itu dari pihak keluarga pelaku.

“Ibu kandung korban sendiri yang cerita. Minta dinikahkan itu setelah dilaporkan ke polisi. Malah beredar isu, kalau keluarga pelaku ini kebal hukum. Terus tawaran menikahkan anaknya itu, niat dan tujuannya apa. Supaya keluarga korban mau dan ikhlas mencabut laporannya. Saya sih ngelihatnya kaya lagi ngibulin anak kecil,” tegas Ade.

Ade kembali menegaskan kepada pihak Kepolisian, dalam hal ini Unit PPA Polresta Cirebon, agar dapat bekerja dengan profesional dan objectif serta mampu melihat kebenaran dari sisi kemanusiaan.

“Hukum adalah ujung tombaknya keadilan. Jika hukum ini hanya tajam kepada orang – orang lemah saja, sampai kiamat pun keadilan itu tidak akan pernah terwujud. Sekali lagi saya berharap, kasus pemerkosaan ini bisa segera diusut tuntas dan pelakunya diadili dengan seberat-beratnya,” pungkas Ade. (is/ta)

LEAVE A REPLY

four × four =