FMPPL Kritisi Gunungan Sampah Di Lokasi Proyek PLTU 2 Cirebon

FMPPL Kritisi Gunungan Sampah Di Lokasi Proyek PLTU 2 Cirebon

464
0
BERBAGI
Deden Iskandar, perwakilan Forum Mahasiswa Pemuda Peduli Lingkungan (FMPPL) saat mengecek gunungan sampah di lokasi proyek PLTU 2 Kabupaten Cirebon.

CIREBON (rq) – Gunungan sampah yang berada di dalam lokasi proyek pembangunan PLTU 2 Kabupaten Cirebon, mendapat kritik tajam dari Forum Mahasiswa Pemuda Peduli Lingkungan (FMPPL). Pasalnya gunungan sampah tersebut, disinyalir sudah satu tahun terakhir dibiarkan menumpuk.

Perwakilan FMPPL, Deden Iskandar kepada Republiqu mengaku iba dengan gunungan sampah yang berada dilokasi proyek pembangunan PLTU 2 Kabupaten Cirebon tersebut. Pihaknya menduga, kontraktor maupun manajemen perusahaan diduga tidak peduli dengan kondisi tersebut.

“Kami masuk ke dalam PLTU 2, merasa iba karena disana ada gunungan sampah. Kami khawatir akan menimbulkan masalah baru. Kami atas nama FMPPL meminta agar PLTU 2 atau kroni-kroninya (manajemen, red) peduli dengan sampah,” tegasnya, Senin (8/6/2020).

Deden mengungkapkan, sampah yang menggunung tersebut adalah sampah campuran. Menurutnya, ada sampah sisa hasil prosuksi, sampah makanan sisa orang kerja, semuanya tercampur jadi satu.

“Jadi semua sampah disitu campur, baik sampah sisa pembangunan, sampah makanan orang kerja, bahkan mungkin sampah binatang mati juga ada disitu. Semua ditumpuk dalam gunungan itu,” jelasnya.

Deden juga menjelaskan, lokasi gunungan sampah tersebut juga dekat dengan aliran sungai. Ia khawatir rembesan air lindi yang dihasilkan oleh sampah tersebut, juga bisa mencemari sungai.

“Dari awal, adanya gunungan sampah itu sejak pekerjaan dimulai, sampai sekarang. Dan seterusnya akan seperti itu, jika dibiarkan menggunung. Pasti akan semakin banyak kalau tidak ditangani. Dampaknya, ditakutkan akan mencemari sungai,” terangnya.

Deden mengaku sudah mencoba konfirmasi dengan pihak perwakilan kontraktor ataupun perusahaan yang bertanggung jawab perihal gunungan sampah tersebut. Namun ia mengaku, tidak ada satu orang pun yang bisa bersedia menemuinya.

“Kami sendiri ingin tau, sejauh apa pihak perusahaan dan kontraktor proyek PLTU 2 menangani persoalan sampah tersebut. Tapi tidak ada satu pun dari pihak perusahaan maupun kontraktor yang bersedia menemui saya. Silahkan teman-teman media barangkali bisa mengklarifikasi terkait gunungan sampah itu,” imbuhnya.

Selaku aktifis lingkungan, Deden bersama FMPPL berharap agar adanya mega proyek tersebut, tidak menimbulkan masalah baru di masyarakat, diluar masalah-masalah yang sudah ada. Pihaknya meminta agar jangan sampai ada masalah baru lagi, bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek, yaitu pencemaran lingkungan.

“Kalau memang mereka (kontraktor dan pengusaha) tidak peduli, kami akan peduli dan kami akan siap turun. Kami sudah melakukan kroscek, langkah selanjutnya kami akan mengirimkan surat. Kita lihat responnya nanti seperti apa? Kalau memang mereka tidak tanggap, tidak ada respon, terpaksa kami akan turun ke jalan. Kami akan menggelar aksi,” tukasnya.

Sementara itu, ketika Tim Republiqu bermaksud meminta klarifikasi kepihak perusahaan, penjaga keamanan lokasi proyek PLTU 2 tidak memperkenankan masuk.

Salah satu security bernama Dwi mengatakan, jika ingin bertemu dengan pihak perusahaan harus membuat janji terlebih dahulu. Memurutnya prosedur perusahaan seperti itu, siapapun yang ingin bertemu dengan perwakilan perusahaan harus sudah membuat janji.

“Perusahaan memerintahkan kami seperti itu. Harus ada janji dulu. Kalau tidak ada janji, sulit bisa bertemu orang di dalam. Kami cuma menjalankan prosedur saja, sesuai dengan tugas kami,” pungkas Dwi. (is/ta)

LEAVE A REPLY

eighteen + seven =