Fahmina Institut Gandeng Pemuda Bakung Lor Tangkal Radikalisme dan Terorisme

Fahmina Institut Gandeng Pemuda Bakung Lor Tangkal Radikalisme dan Terorisme

354
0
BERBAGI
Melalui Pelatihan Pemuda Penggerak, Fahmina Institut mengajak pemuda desa Bakung Lor tanggap dan responsif dalam menangkal paham Radikalisme dan Terorisme.

CIREBON (rq) – Pemerintah Desa (Pemdes) Bakung Lor bersama Fahmina Institut Cirebon, gelar pelatihan pemuda penggerak dalam upaya penguatan pemahaman menangkal radikalisme dan ekstrimisme di Cirebon, yang bertempat di balai desa Bakung Lor, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Jum’at, (24/7/2020).

Marzuki Rais penanggung jawab program Fahmina menjelaskan, Fahmina Institut merupakan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berdiri pada tahun 2000.

Dalam kiprahnya, selama ini lembaga tersebut konsisten memberikan pemahaman terhadap masyarakat terkait isu-isu sosial yang meliputi pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, radikalisme dan terorisme dengan dasar ilmu islam pesantren.

“Jadi kita ingin menghadirkan ilmu-ilmu pesantren atau ilmu islam pesantren ini, untuk terlibat dalam pembenahan masyarakat. Pada awal-awal yang kita usung adalah isu pendidikan, kesehatan, kemudian isu pemberdayaan perempuan, soal traficking dan lain-lain,” paparnya.

Menurutnya, untuk menghindari traficking, organisasi Fahmina juga memberikan pemahaman bagaimana menjadi buruh migran secara aman, tidak terjerat oleh rentenir atau juga dipaksa oleh majikannya melakukan sesuatu yang kemudian dia sendiri dirugikan seperti tidak dibayar, kekerasan seksual, kekerasan fisik dan lain-lain.

“Intinya program yang kami fokuskan lebih kepada sosial masyarakat. Kira-kira itu kerjaan yang telah dilakukan Fahmina,” ujar Marzuki, kepada Republiqu.com di sela-sela pelatihan berlangsung.

Marzuki mengatakan selama lima tahun ini pihaknya fokus bekerjasama dengan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) dan Detasemen Khusus 88 (Densus 88), guna menangkal bahaya penyebaran paham radikalisme dan terorisme.

“Empat atau lima tahun ini, kita masuk kepada isu-isu (krusial), bagaimana memberikan pemahanam terhadap masyarakat agar tidak terjerat kepada kelompok radikal atau teroris. Dimana penyebaran paham itu, saat ini sangat mudah seperti melalui media internet. Polanya sangat halus, karena tidak mengajak orang untuk membunuh atau mengajak orang melakukan aksi bom bunuh diri, tidak seperti itu,” jelasnya.

Mulai dari tahun 2014 lalu, sudah 14 desa yang mereka bina. Pada tahun ini mereka membina enam desa di Kabupaten Cirebon yaitu desa Bakung Lor, Bojong Lor, Klayan, Wanasaba, Kenanga, dan Cikalahang yang notabenenya pernah terdapat kasus terorisme.

Menurutnya, selain kegiatan tersebut, Fahmina juga aktif melakukan pendekatan terhadap keluarga narapidana terorisme (Napiter). Sehingga para keluarga tersebut tetap merasakan hidup sebagai masyarakat pada umumnya, tidak merasa diasingkan atau terisolir oleh lingkungan sekitar maupun pemerintah.

“Misalnya memberikan bantuan sembako dan melibatkan mereka pada kegiatan-kegiatan sosial di lingkungan sekitar mereka. Sehingga tidak menimbulkan rasa kebencian terhadap lingkungan dan pemerintah, yang mana sering dijadikan pelampiasan bagi mereka dengan cara melakukan tindakan atau aksi radikalisme dan terorisme,” ungkapnya.

Marzuki melanjutkan, selama ini mereka menganggap dan merasakan penderitaan sendiri, merasa terisolasi, dan pemerintah dianggap tidak pernah hadir terhadap kesusahan mereka, maka salah satu pelampiasannya yaitu dengan melawan pemerintah itu sendiri.

“Sebenarnya yang paling kuat soal ideologi. Menurut saya sih, soal ekonomi itu adalah sebagai faktor lain, karena terbukti, dari sekian keluarga napiter, ada yang menolak ketika di berikan sembako, apa alasannya ? Karena pemberian itu tidak dari kelompok mereka. Karena menurut mereka, kita ini kafir. Jadi pemberian yang diberikan orang kafir bagi mereka itu haram,” tutur Marzuki.

Dalam pelatihan tersebut, lanjut Marzuki, pihaknya membekali para perwakilan pemuda mengenai pemahaman toleransi, perdamaian dan radikalisme serta maping pemetaan sosial, sehingga lebih efektif dalam melakukan tindakan ketika mendapati hal-hal mencurigakan yang mengarah ke paham radikalisme.

“Disitu kita akan memberikan skill keorganisasian dan juga deteksi dini. Artinya mereka bisa mendeteksi ketika ada gerakan-gerakan atau warganya yang dicurigai punya tanda-tanda pengaruh kelompok radikal. Mereka bisa segera mendekati bisa menarik kembali agar tidak terlalu jauh. Jadi harapan kami, mereka yang sudah kita latih itu bisa mensosialisasikan kepada tetangga saudara atau kerabat di lingkungannya sendiri,” pungkas Marzuki.

Sementara itu, pendamping pemuda desa Bakung Lor Abdul Hamid mengatakan kegiatan tersebut berawal dari rasa keprihatinan terhadap masyarakat desa Bakung Lor yang ikut tercatat sebagai salah satu desa yang terdapat kasus terorisme.

Ia mengaku, sebelumnya telah mengikuti  seminar yang telah diselenggarakan oleh Fahmina mewakili pemuda kecamatan Jamblang.

Pada  kesempatan itu, ia menjelaskan kondisi desanya terkait paham radikalisme. Sehingga dengan pemaparan yang dilakukannya, mampu menarik simpati Fahmina untuk membenahi desa Bakung Lor.

“Upaya Fahmina memberikan pemahaman untuk menangkis faham tersebut, melalui kegiatan yang melibatkan pemuda, kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih 7 bulan. Selama 7 bulan itu diagendakan beberapa kegiatan yang bersumber dari usulan masyarakat pemuda desa Bakung Lor. Tujuannya agar supaya generasi penerus bisa paham mengenai bahaya tentang radikalisme dan terorisme,” ujarnya.

Menurut Abdul Hamid, pelatihan tersebut seharusnya dilaksanakan pada bulan April lalu. Namun karena adanya wabah virus Covid-19, kegiatan tersebut baru bisa dilaksanakan pada bulan ini dengan menerapkan standar protokol kesehatan.

“Harapan dari kegiatan ini, pemuda bisa peka terhadap bahaya radikalisme dan terorisme. Jangan sampai kita yang menjadi generasi penerus, terjerumus kedalam pemahaman tersebut. Dengan adanya kasus seperti ini di desa Bakung Lor, setidaknya memberikan dampak negatif, menjadi zona merah penyebaran teroris, padahal kejadiannya kan bukan di desa Bakung Lor, tapi tetap saja orang di luar sana taunya desa Bakung Lor,” tuturnya.

Kepala Desa (Kuwu) Bakung Lor H. Watma mengapresiasi adanya kegiatan tersebut.  Ia berharap melalui kegiatan tersebut mampu menangkal bahaya radikalisme dan terorisme. Yang sebelumnya organisasi radikal tersebut sulit terdeteksi baik oleh masyarakat maupun pemerintah desa setempat.

“Sebenarnya kegiatan seperti ini dulu sudah dilakukan cuma dikhususkan untuk perangkat, karangtaruna. Sekarang sih untuk semua, terutama kalangan pemuda seperti Himabor mahasiswa dan siapa saja yang siap. Apalagi ada yang mendukung memfasilitasi kegiatan ini dari Pak Abdul Hamid yang menaungi atau memfasilitasi kegiatan positif,” katanya. (on)

LEAVE A REPLY

three × 4 =