Diduga Tahan Agunan, GRIB Audensi Bank BJB Cabang Kota Cirebon

Diduga Tahan Agunan, GRIB Audensi Bank BJB Cabang Kota Cirebon

1204
0
BERBAGI
Jajaran pengurus DPC GRIB Kabupaten Cirebon saat akan menggelar audensi dengan Bank BJB Cabang Kota Cirebon.

CIREBON (rq) – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Rakyat Indonesia Baru (DPC GRIB) Kabupaten Cirebon, menggelar audensi dengan Bank BJB Cabang Kota Cirebon terkait dugaan agunan nasabah yang ditahan oleh pihak bank, Senin (18/10).

DPC GRIB Kabupaten Cirebon mendampingi kuasanya yaitu Suka dan Alm. Suherno atas persoalan jaminan agunan sertifikat yang dijaminkan ke Bank BJB Cabang Kota Cirebon, oleh Koperasi Pengrajin Sendal Karet Kopinkra Prima Citra.

Sekretaris DPC GRIB Kabupaten Cirebon, Amal Sukhan kepada Republiqu menerangkan, pemilik atas nama sertifikat yang diagunkan tersebut, meminjam sejumlah uang kepada Koperasi (Kopinkra) Prima Citra. Kemudian diajukanlah kepada Bank BJB Cabang Kota Cirebon dengan sertifikatnya sebagai jaminan.

“Pemilik sertifikat ini mau mengambil sertifikatnya dan melunasi sisa hutang yang ada di Koperasi. Tapi justru ada perbedaan jumlah sisa hutang antara pihak Bank BJB dan Koperasi. Kalau kata pihak bank sisa hutangnya sekitar Rp 14 juta. Sementara menurut Koperasi sekitar Rp 4 jutaan,” jelasnya.

Dikatakan Amal, pemilik atas sertifikat tersebut meminta agar pihak Bank BJB Cabang Kota Cirebon memberikan jaminan sertifikatnya yang diagunkan oleh koperasi. Karena menurutnya ada dugaan tata kelola keuangan yang tidak sesuai antara pihak Koperasi (Kopinkra) Prima Citra yang disetorkan kepada bank BJB.

“Kami mendesak kepada bank BJB Cabang Kota Cirebon untuk memberikan sertifikat agunan kepada pemiliknya. Karena ini berkaitan juga dengan hak masyarakat kecil. Kami berharap kepada Bank BJB, semoga kejadian ini tidak terulang kembali di kemudian hari,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Hukum DPC GRIB Kabupaten Cirebon, Farid Yasin SH, mengungkapkan, dalam kasus tersebut status pemilik sertifikat adalah penjamin dari pihak Koperasi (Kopinkra Prima Citra) yang mengajukan pinjaman kepada Bank BJB Cabang Kota Cirebon.

“Jadi pemilik sertifikat yang meminta pendampingan kepada GRIB ini, bukanlah yang mengajukan kredit. Posisinya hanya sebagai penjamin. Sebagai debiturnya adalah Koperasi. Dan pemilik sertifikat ini juga sebagai anggota koperasi. Jadi sebenarnya yang punya masalah disini adalah Koperasi,” paparnya.

Farid juga mengatakan, pihak Bank BJB diduga telah melanggar asas kehati – hatian atau prudent dimana ada prinsip 5 C yang dilanggar. Harusnya, kata Farid, yang menjadi jaminan oleh pihak Bank adalah aset milik koperasi bukan aset milik pribadi.

“Koperasi itu kan badan hukum. Sama seperti orang, punya hak, punya kewajiban. Harusnya yang menjadi jaminan disini adalah aset milik koperasi. Karena debiturnya adalah koperasi. Tapi disinikan yang menjadi jaminan adalah aset milik perseorangan atau pribadi, bukan milik koperasi,” jelasnya.

Farid menghimbau kepada pihak Bank BJB untuk tidak mempersulit proses pengambilan sertifikat oleh pemiliknya. Karena menurutnya kewajiban pemilik sertifikat kepada koperasi, sudah diselesaikan dengan membayar sisa hutangnya yang tercatat di koperasi.

“Ketika (hutang) anggota ini sudah lunas, kewajiban dia kepada koperasi, harusnya kan jaminannya keluar dari BJB. Tapi disini tidak. Sejak awal pun diduga BJB telah lalai, melakukan pelanggaran yah, karena kredit yang dilakukan itu tidak berdasarkan hukum yang berlaku, baik itu PBI maupun peraturan Perbankan nomor 10 tahun 1998,” tegasnya.

Farid juga mengungkapkan, jika persoalan tersebut terus berlarut – larut pihaknya tidak segan – segan untuk membawanya ke ranah hukum. Karena menurutnya hal tersebut menyangkut dengan hak hajat hidup orang banyak.

“Bayangkan, persoalan ini dari tahun 1999 dan sampai sekarang masih belum selesai. Mungkin baru ini ketika didampingi GRIB berani muncul ke permukaan. Bagaimana dengan masyarakat yang tidak berani melawan. Ini catatan untuk perbaikan dunia perbankan kedepan supaya tidak terulang lagi di kemudian hari,” pungkasnya.

Sementara itu, ketika hendak diklarifikasi perihal persoalan tersebut, pihak Bank BJB Cabang Kota Cirebon melalui security mengatakan, tidak ada perwakilan yang bisa ditemui karena sedang ada rapat.

“Pak Lucky selaku bagian penagihannya sedang rapat. Gak tahu sampai jam berapa. Kalau mau ketemu, nanti kesini lagi saja,” ujar Herman Santoso, salah satu security Bank BJB. (is)

- Advertisement -