Di Desa Tuk Kedawung, Sampah Bisa Ditukar Uang

Di Desa Tuk Kedawung, Sampah Bisa Ditukar Uang

704
0
BERBAGI
Paturohim Wijaya, Kuwu Tuk Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon saat meninjau langsung program Bank Sampah.

CIREBON (rq) – Sampah pada umumnya menjadi limbah yang mengganggu. Tak sedikit masyarakat yang mau berdekatan dengan sampah. Apalagi dibiarkan menumpuk. Jelas akan membuat si pemilik rumah tidak nyaman.

Tetapi lain halnya di desa Tuk Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon. Di desa ini sampah justru ditimbun dan dibiarkan menumpuk oleh si pemilik rumah. Tujuannya agar apa ?, agar sampah yang dikumpulkan tersebut bisa ditukarkan dengan uang, sehingga bisa lebih bermanfaat.

Kuwu Tuk Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon, Paturohim Wijaya kepada Republiqu.com mengatakan, program pengelolaan sampah di desanya tersebut diberi nama Bank Sampah. Selain mendapatkan uang, menurutnya masyarakat juga diajak untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitar, khususnya masalah sampah.

“Seperti kita ketahui bersama bahwa setiap orang menghasilkan sampah. Namun kadang masyarakat tidak mau memilah sampah tersebut. Padahal masih ada nilai ekonomi dari sampah yang dihasilkannya itu. Contohnya, botol plastik, kantong kresek, kardus, buku bekas, bahkan almunium dan besi juga bisa di uangkan ,” jelasnya, Senin (20/7/2020).

Kuwu Tuk mengungkapkan, program Bank Sampah di desanya tersebut telah memiliki 350 nasabah, dengan total sampah yang dikumpulkan mencapai kurang lebih 400 Kg atau 4 kwintal per bulan. Jumlah tersebut menurutnya hanya dari botol plastik kemasan minuman saja. Bila digabungkan dengan sampah lainnya seperti besi, almunium dan sebagainya, bisa mencapai kurang lebih 1 ton per bulan.

“Kami sangat mengapresiasi semangat masyarakat bersama relawan bank sampah yang sudah menjalankan program ini dengan sangat baik. Apa yang sudah dikerjakan selama ini kami rasakan dampaknya sangat positif. Selain dapat mengurangi volume sampah yang di buang ke TPS. Masyarakat juga bisa mendapatkan uang dari sampah yang mereka hasilkan,” terangnya.

Kuwu Tuk mengaku, dalam menjalankan program tersebut, pemerintah desa Tuk bekerja sama dengan Bank Central Asia (BCA) dalam hal pembukuan rekening bagi para nasabahnya. Jadi menurutnya, setiap nasabah yang tergabung dalam program Bank Sampah tersebut, mendapatkan kartu ATM dari Bank BCA. Selain berfungsi sebagai alat pembayaran dari sampah yang dikumpulkan nasabah, rekening tersebut juga bisa digunakan untuk menabung.

“Prosesnya, masyarakat cukup mendaftar ke petugas Bank Sampah. Nantinya ketika sampahnya sudah terkumpul, tinggal hubungi petugas agar bisa diambil. Sampah yang sudah disortir tadi kemudian ditimbang dan dihitung jumlahnya. Setelah itu dikonversikan ke rupiah dan langsung di depositokan melalui mesin EDC ke rekening nasabah masing-masing,” paparnya.

Menurut Kuwu muda ini, program tersebut juga terlaksana berkat kerjasama dengan pengusaha barang bekas (rongsokan) yang berada di wilayah Watubelah. Menurutnya, dengan kerjasama itu, hasil sampah yang terkumpul di gudang Bank Sampah, tidak perlu diantar ke tempat pengusaha barang bekas itu. Cukup tunggu sampai kapasitasnya cukup, lalu mereka mengambilnya sendiri.

“Alhamdulilah dengan adanya kerjasama dengan beberapa pihak tersebut, lebih memudahkan jalannya program Bank Sampah ini. Kami tentu berharap, kedepan akan lebih banyak lagi masyarakat yang bersedia menjadi nasabah Bank Sampah. Agar kedepan permasalahan sampah di desa Tuk, tidak lagi menjadi persoalan,” pungkasnya. (is/ta)

LEAVE A REPLY

nineteen + six =