Di Cirebon, Jejak Perjalanan Laksamana Cheng Ho Tertapak

Di Cirebon, Jejak Perjalanan Laksamana Cheng Ho Tertapak

666
0
BERBAGI
Penjabat Bupati Cirebon Dicky Saromi memberikan sambutan dalam seminar Jejak - Jejak Laksamana Ceng Ho, di salah satu hotel kawasan Kedawung Kab. Cirebon

CIREBON (R) – International Zheng He Society Cheng Ho Cultural Museum, menggelar kegiatan Seminar Internasional jejak – jejak Laksamana Cheng Ho di salah satu hotel di wilayah Kabupaten Cirebon, Senin (26/11/2018).

Hadir dalam kesempatan tersebut, Penjabat Bupati Cirebon, tokoh budayawan Cirebon, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cirebon dan beberapa tamu undangan lainnya.

Presiden Direktur International Zheng He Society Cheng Ho Cultural Museum, Prof. Tan Ta Sen mengatakan, kegiatan seminar tersebut bertujuan, untuk lebih menggali dan mengumpulkan jejak – jejak perjalanan Laksamana Cheng Ho, di Indonesia.

“Ini merupakan langkah awal kami, dalam menelusuri sejarah Laksamana Cheng Ho yang ada di Indonesia, semuanya akan kita coba gali baik benda – benda peninggalannya, maupun budayanya,” katanya kepada awak media.

Tan juga menambahkan, Cirebon akan di jadikan semple project dalam penghimpunan data, sebelum melakukan penelitian ke beberapa kota di Indonesia.

“Kita mulai dari Cirebon, kemudian kita akan singkronkan ke kota lain seperti Aceh, Tuban, Semarang, Surabaya dan kota-kota lain, yang ada dalam keterkaitan sejarah Laksamana Cheng Ho. Semua akan kita kumpulkan, sebelum kita dirikan sebuah museum,” tambahnya.

Sementara Kuwu Desa Sitiwinangun Ratija Bratamenggala mengatakan, pihaknya mengapresiasi kegiatan tersebut dan juga keterkaitan ekpedisi Laksamana Cheng Ho.

“Desa kami lokasinya ada aliran sungai Jamblang, yang bermuara di muara Jati. Kemudian, di desa kami juga ada peninggalan berupa karajinan gerabah yang di duga dalam penelitian itu, salah satu yang di bawa kemudian diajarkan ke penduduk disana,” ungkapnya.

Ratija juga menambahkan, pihaknya sedang melaksanakan pengembangan kerajinan gerabah dan juga pengembangan kepariwisataannya, sebagai salah satu produk unggulan desa Sitiwinangun.

“Kegiatan ini akan menambah informasi dan juga wawasan bagi kami untuk pengembangan kepariwisataan, dengan iconnya yaitu kerajinan gerabah. Ini juga akan jadi daya tarik tersendiri bagi kepariwisataan, terutama informasi asal-usul kerajinan gerabah,” jelasnya.

Menurut Ratija, hal tersebut perlu di gali sumber – sumber sejarah yang akurat, kemudian terverifikasi, agar mendapatkan sumber sejarah yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Ini sangat berguna untuk generasi muda sekarang, agar mereka dapat mengenal sejarah. Kemudian mereka bisa belajar dari sejarah itu, sehingga mereka mampu menatap masa depannya dengan baik,” pungkasnya. (ta)

Penyunting : wanto

LEAVE A REPLY

fifteen + 10 =