4 Perangkat Desa Gujeg Menuntut

4 Perangkat Desa Gujeg Menuntut

1253
0
BERBAGI

Cirebon (R) – Pergantian pimpinan desa Gujeg Kecamatan Panguragan Kabupaten Cirebon, menyisakan setitik persoalan antara Kuwu (Kepala Desa, red) definitif yang baru dengan perangkatnya.

Estafet kepemimpinan dari periode sebelumnya yang dikepalai Hj. Ruisah dan saat ini diteruskan oleh Susmaya, kuwu terpilih hasil pemilihan kuwu serentak 2017 lalu, berjalan tidak harmonis.

Empat perangkat lama desa Gujeg yang sekarang masih aktif diantaranya Suparman sebagai Kaur Kesra, Radini sebagai Kaur Ekbang, Tuhani Kadus IV dan Karsa Kadus III, menolak mengundurkan diri apabila tuntutan mereka tidak di akomodir oleh kuwu terpilih.

Suparman selaku Kaur atau Kasie Kesra desa Gujeg mengungkapkan, dirinya diminta oleh kuwu terpilih Susmaya, untuk mengundurkan diri sebagai pejabat desa Gujeg, dengan alasan indisipliner dan tidak loyal terhadap pimpinan.

“Kami dianggap sebagai oposisi kuwu terpilih, karena menurut penilaian kuwu, kami berempat tidak mendukung dirinya pada saat pemilihan kuwu serentak 2017 lalu. Oleh sebabnya kami berempat diminta oleh kuwu Susmaya untuk mengundurkan diri sebagai perangkat desa Gujeg,” ungkapnya.

Dikatakan Suparman, dirinya bersama dengan tiga perangkat desa lainnya, siap mengundurkan diri sebagai perangkat desa Gujeg, apabila tuntutan mereka berupa hak 6 tahun garap tanah desa (bengkok) diberikan secara penuh.

“Kami sadar bahwa ada ketidak sukaan kuwu kepada perangkat desa yang lama. Kami dibuat tidak nyaman. Kami bersedia mengundurkan diri sebagai perangkat desa apabila hak garap selama 6 tahun itu dipenuhi oleh kuwu Susmaya,” terangnya.

Suparman mengungkapkan, sejak diangkat sebagai perangkat desa pada 26 September 2011 lalu, hak garap tanah bengkok yang diterimanya baru 5 tahun, padahal ke empatnya sudah bekerja selama 6 tahun sebagai perangkat, di desa Gujeg.

“Jika melihat sesuai dengan SK pengangkatan, tertulis hak garap bengkok terhitung mulai tahun 2012. Namun sesuai adat tradisi desa, perangkat yang baru, mulai menerima hak garap bengkok itu pada tahun berikutnya. Istilahnya satu tahun yang tidak dibayar itu biasa disebut gantung,” ujarnya.

Hal tersebut, menurut Suparman adalah hak perangkat desa yang harus dibayar oleh pemerintah desa. Karena menurutnya adat tradisi gantung bengkok, sudah dilangsungkan selama puluhan tahun lalu dan sudah lumrah dilakukan oleh kuwu setiap pergantian jabatan perangkat desa yang baru.

“Pada intinya kami hanya meminta hak selama kami bekerja selama 6 tahun diberikan secara penuh. Karena selama ini baru 5 tahun garapan yang kami terima. Kami siap mengundurkan diri apabila tuntutan kami dipenuhi oleh kuwu,” tandasnya.

Sementara itu, kuwu baru definitif desa Gujeg, Susmaya menyangkal bahwa hak garap keempat perangkat desa tersebut belum diberikan secara penuh. Menurutnya sesuai dengan SK pengangkatan, bahwa keempat perangkat desa tersebut mulai menerima hak garap tanah bengkok sejak tahun 2012.

“Jika melihat apa yang tertuang dalam SK pengangkatan tersebut, keempat perangkat desa itu sudah menerima haknya. Terkait masalah gantung menggantung garapan, itu bukan kewenangan saya sebagai kuwu definitif yang baru. Saya sendiri sampai saat ini tidak tahu, jika ada perjanjian yang tidak tertulis dalam SK Pengangkatan perangkat desa tersebut. Silahkan diselesaikan dengan kuwu terdahulu,” ujarnya.

Terkait masalah tuntutan perangkat desanya, Susmaya meminta bantuan Pemerintah Kecamatan Panguragan dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Cirebon, untuk mencari solusi dan akar permasalahannya, agar masalah tersebut bisa segera diselesaikan.

“Intinya kami tidak ingin menghambat pembangunan dan program pemerintah desa Gujeg, hanya karena persoalan seperti ini. Kami ingin menyelesaikan permasalahannya sesuai dengan peraturan dan perundang – undangan yang berlaku,” pungkasnya. (NR)

LEAVE A REPLY

twelve − 10 =