Waspada, Siaga Darurat Bencana Sampai 31 Mei 2020

Waspada, Siaga Darurat Bencana Sampai 31 Mei 2020

101
0
BERBAGI
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon, Dadang Suhendra, bersama Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD, H. Eman Sulaiman, saat mendampingi Bupati Cirebon, H. Imron Rosyadi dan Dandim 0620 monitoring kesiapsiagaan bencana di Kabupaten Cirebon.

CIREBON (R) – Memasuki musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon mulai bersiaga. Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk salah satunya menetapkan status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor, terhitung sejak tanggal 1 Desember 2019 sampai 31 Mei 2020.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cirebon, H. Eman Sulaeman mengatakan, selain peringatan dini tersebut BPBD juga telah memiliki rencana kontijensi banjir. Sehingga ketika terjadi bencana tersebut, semua telah terkordinir. Baik dengan SKPD terkait, maupun dengan TNI dan POLRI.

“Kita juga telah mendirikan posko siaga darurat banjir dan tanah longsor di kecamatan Ciledug. Posko itu dijaga oleh petugas piket, yang terdiri dari unsur SKPD terkait, TNI, POLRI, anggota komunitas dan ormas, semua tergabung disitu. Sehingga bila terjadi bencana, dapat secepatnya di tanggulangi. Tindakan antisipasi tersebut, semata – mata untuk membantu dan melindungi masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu, H. Eman juga mengatakan, telah memasang alat untuk mendeteksi peningkatan debit air sungai di daerah Ciledug Wetan. Dengan adanya alat tersebut, diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat, terkait adanya bahaya banjir.

“Manakala cuaca ekstrim dan air naik, maka alat canggih ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat, sebagai peringatan dini. Apakah masyarakat harus siap – siap mengungsi atau harus segera mengungsi,” tambahnya.

Dikatakan H. Eman, BPBD juga telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat, melalui berbagai media massa untuk tidak membuang sampah ke sungai, gorong – gorong, got dan saluran drainase yang lain, agar tidak menimbulkan banjir karena saluran air tersumbat sampah.

“Kami juga meminta masyarakat untuk memotong dan memangkas pohon – pohon yang sudah tua, agar tidak membahayakan. Kami juga menyiapkan berbagai alat penanggulangan bencana, serta menyiapkan logistik bila terjadi bencana. Selain itu, ada sekitar 600 personil petugas siaga bencana yang terdiri dari berbagai instansi terkait, serta dibantu dari TNI dan POLRI,” lanjutnya.

H. Eman juga menjelaskan, Sampai saat ini BPBD telah menerima beberapa laporan, terkait kebencanaan yang terjadi di Kabupaten Cirebon. Namun menurutnya, hal tersebut belum dikategorikan tanggap darurat bencana.

“Untuk rumah yang roboh atau rusak akibat terjangan hujan angin, ada sekitar 10 laporan yang masuk, untuk longsor ada 3 kejadian, sedangkan untuk banjir sendiri ada 2 laporan, namun banjir tersebut tidak sampai 24 jam dan langsung kembali surut,” paparnya.

Sedangkan untuk daerah rawan terjadi bencana di wilayah Kabupaten Cirebon, H. Eman mengatakan, BPBD Kabupaten Cirebon, telah melakukan pemetaan terkait daerah – daerah yang rentan terjadinya bencana.

“Untuk yang rawan banjir ada sekitar 7 kecamatan yaitu kecamatan Losari, Pebedilan, Ciledug, Pasaleman, Gebang, Waled serta Gunungjati. Sedangkan untuk yang rawan longsor yaitu kecamatan Sumber, Greged, Beber, Dukupuntang, Sedong dan Waled,” jelasnya.

Sementara itu, dikatakan H. Eman, untuk daerah yang sering mengalami angin puting beliung, ada beberapa wilayah yang meliputi kecamatan Arjawinangun, Susukan, Panguragan, Kapetakan, Gunung Jati, Losari, Pangenan dan Mundu.

“Puting beliung biasanya terjadi di daerah yang berbatasan dengan pesisir laut, serta daerah – daerah yang banyak memiliki ruang lapang yang terbuka. Untuk itu masyarakat di daerah tersebut, agar senantiasa waspada karena puncak musim penghujan di perkirakan akan terjadi dari bulan Januari dan Februari,” pungkasnya. (ta)

LEAVE A REPLY

11 + 15 =