PPDB SMPN 2 Suranenggala Tak Capai Target

PPDB SMPN 2 Suranenggala Tak Capai Target

192
0
SHARE
SMPN 2 Suranenggala Kabupaten Cirebon

CIREBON (R) – Masa pengenalan lingkungan sekolah atau disingkat MPLS merupakan salah satu fase yang biasa dilakukan sekolah pasca penerimaan peserta didik baru. Hal tersebut dilakukan agar para peserta didik baru dapat mengenal dan menyesuaikan dengan lingkungan sekolah yang baru mereka tempati.

Selain itu momen MPLS juga di tunggu para siswa baru untuk mengenal satu sama lain sesama peserta didik baru, yang berasal dari berbagai sekolah yang berbeda. Sehingga pada saat mulai kegiatan belajar mengajar, para siswa sudah mengenal teman satu kelasnya masing – masing.

Di SMPN 2 Suranenggala kecamatan Suranenggala kabupaten Cirebon, juga melaksanakan hal serupa. Itu dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh pihak sekolah.

Wakasek Kurikulum SMPN 2 Suranenggala Muhamad Abdulatip mengatakan, pelaksanan MPLS merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan, usai pelaksanaan PPDB disekolahnya. Hal tersebut dinilai penting untuk adaptasi siswa dengan lingkungan yang baru.

“Saat ini para siswa baru masuk ke tahap pengenalan lingkungan sekolah, agar mereka bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, teman yang baru dan juga sekolah yang tentunya berbeda dengan sekolah asal,” ungkapnya.

Saat disinggung mengenai penerapan sistem zonasi pelaksanaan PPDB kemarin Abdulatip menjelaskan, pihaknya menyambut positif terkait hal tersebut. Menurutnya dengan sistem tersebut tidak adalagi sekolah yang berpredikat favorit. Sementara disisi lainnya, penerimaan siswa baru di sekolahnya menjadi berkurang, lantaran adanya batasan zona tersebut.

“Yang jelas dengan sistem zonasi ini dari target 8 kelas, kami hanya dapat 7 kelas. Itupun juga kurang, karena rata – rata tiap kelas hanya di isi 28 siswa. Dari yang seharusnya 32 siswa. Namun secara keseluruhan, kami menyambut sistem ini dengan positif,” terangnya.

Ia berharap kedepan penerapan sistem zonasi tersebut dapat di revisi. Sehingga kuota penerimaan zonasi kombinasi dapat lebih besar nilainya dibandingkan nilai zonasi murni.

“Kami berharap untuk zonasi kombinasi kuotanya bisa diperbanyak. Karena di kombinasi ini pertimbangannya yaitu nilai NEM 70% dan zonasi murninya 30%. Tidak seperti saat ini, zonasi murni 80% sedangkan zonasi kombinasi cuma 20%. Sehingga nilai berapapun asal berada dalam zona terdekat dapat masuk,” pungkasnya. (ta)

LEAVE A REPLY

16 + 16 =