Kuwu Sitiwinangun Dorong Kerajinan Gerabah Sebagai Destinasi Wisata

Kuwu Sitiwinangun Dorong Kerajinan Gerabah Sebagai Destinasi Wisata

365
0
SHARE
Kuwu Sitiwinangun Ratija Brata Manggala, menunjukkan salah satu ikon desa Sitiwinangun berupa patung pengrajin gerabah

CIREBON (R) – Desa Sitiwinangun Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon, merupakan salah satu desa penghasil kerajinan gerabah di Jawa Barat. Bahkan konon katanya, gerabah Sitiwinangun masuk dalam daftar penelitian Internasional Zheng He Society Cheng Ho Cultural Museum. Sebuah yayasan yang meneliti jejak – jejak ekspedisi Laksamana Cheng Ho di Indonesia.

Kuwu (Kepala Desa) Sitiwinangun Ratija Brata Manggala mengatakan, perhatian mengenai industri kerajinan gerabah, akhir – akhir ini banyak mendapat perhatian. Mulai dari pemerintah Kabupaten Cirebon, maupun pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bahkan kunjungan dari luar negeri, dan juga beberapa peneliti yang meneliti kerajinan gerabah di Desa Sitiwinangun.

“Tentunya hal ini merupakan respon positif dan kebangaan bagi masyarakat kami. Perhatian pemerintah, dalam hal ini manjadi motivasi tersendiri dalam pengembangan destinasi wisata di desa kami. Terutama kerajinan gerabah,” ungkapnya kepada Republiqu beberapa waktu lalu.

Ratija juga menjelaskan, selain warisan budaya, kerajinan gerabah desanya juga memiliki beberapa potensi yang bisa di eksplore dan digali lebih dalam lagi, untuk dijadikan destinasi wisata selain kerajinan gerabah. Di desanya juga, masih terjaga budaya kearifan lokal yaitu budaya gotong royong saat melakukan acara bakar gerabah (ngobong).

“Banyak hal yang bisa kita kembangkan disini. Selain gerabah, kami juga memiliki masjid kuno yang menjadi warisan sejarah penyebaran Islam disini. Selain itu, budaya gotong royang sampai saat ini masih kuat. Contohnya saat acara ngobong. Disitu para pengrajin yang sudah tua, tidak diperkenankan ngobong sendiri. Tapi boleh nitip ke pengrajin yang masih muda. Semuanya dilakukan secara gotong royong,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, peran serta pemerintah desa dalam hal tersebut memiliki perhatian khusus. Karena menurutnya, gerabah itu bukan hanya unsur ekonomi saja, tetapi ada kaitannya dengan sejarah dan budaya desa Sitiwinangun.

“Jadi pelestarian industri gerabah itu merupakan sebuah keniscayaan. Yang artinya bagaimana kita membangkitkan kembali generasi muda ini, untuk tertarik menjadi pengrajin gerabah. Dengan demikian, pemerintah desa harus bisa meyakinkan dan mendorong agar industri gerabah ini, bisa menjadi sumber penghidupan dan mata pencaharian masyarakat,” tambahnya.

Pihaknya berharap, dengan berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah desa dalam pengembangan dan pelestarian gerabah, dapat menjadikan desa Sitiwinagun sebagai destinasi wisata baru, baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing.

“Berbagai pelatihan – pelatihan, baik pelatihan pengembangan usaha, pelatihan pengembangan desain dan sudah adanya showroom serta upaya – upaya kami yang lain, dapat mewujudkan impian kami semua, untuk menjadikan desa kami sebagai desa wisata. Yang paling membanggakan lagi yaitu, dari jumlah 35 pengrajin sekarang sudah mengalami peningkatan dan itu di dominasi generasi muda,” tandasnya.

Sementara itu Kadmia selaku pengrajin gerabah desa Sitiwinangun mengatakan, perkembangan industri gerabah didesanya untuk saat ini dirasakanya mulai ada kemajuan yang signifikan. Hal tersebut terlihat dengan berjalannya kembali paguyuban pengrajin gerabah Sitiwinangun.

“Yang kami alami untuk sekarang, memang sudah ada kemajuan. Ini jelas sangat positif bagi kami. Tetapi kami juga masih punya PR besar, yaitu bagaimana menyakinkan kembali para pengrajin, agar terus bersama – sama menggeluti usaha ini dan memajukannya. Dengan adanya showroom serta paguyuban ini, diharapkan mampu mengakomodir aspirasi dan persamaan visi, serta hasil para pengrajin untuk bisa ikut membantu memasaran produk – produk para pengrajin,” ungkapnya.

Masih menurut Kadmia, ada beberapa ciri khusus yang menjadikan gerabah Sitiwinangun menjadi pembeda dari gerabah – gerabah yang berasal dari daerah lain.

“Gerabah kami dinilai lebih kuat, serta motif dan bentuk kami memiliki ciri khusus yang menjadi pembeda dari daerah lain. Sehingga besar harapan kami para pengrajin agar budaya yang sudah turun temurun ini, bisa terus lestari dan mampu kita wariskan ke anak cucu kita, sebagai sebuah warisan budaya,” pungkasnya. (ta)

Penyunting : wanto

LEAVE A REPLY

six − five =