Selain RTM, Santri Di Cirebon Dapat Bantuan Budidaya Ayam Dari Kementan

Selain RTM, Santri Di Cirebon Dapat Bantuan Budidaya Ayam Dari Kementan

271
0
SHARE
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementan RI, Momon Rusmono (kanan) memberikan bantuan ayam secara simbolis ke perwakilan Kelompok Santri Tani Millenial pondok Pesantren Darul Ulum Kabupaten Cirebon.

CIREBON (R) – Melalui program Santri Tani Millenial, Kementerian Pertanian (Kementan) RI berupaya menumbuhkan kemandirian bagi santri di berbagai pondok pesantren, khususnya Jawa Barat, termasuk juga Kabupaten Cirebon.

Kegiatan tersebut masuk kedalam program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja), yang pada tahun 2018 lalu sudah digulirkan kepada Rumah Tangga Miskin (RTM) sebagai penerima bantuan berupa budidaya Ayam.

Ditemui usai acara Bimbingan Teknis Budidaya Ayam dan Pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) di Convention Hall UMC, Sabtu (9/3/2019) Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementan RI, Momon Rusmono kepada Republiqu mengatakan, tahun ini akan direalisasikan bantuan budidaya ayam bagi santri di berbagai Pondok Pesantren di Jawa Barat.

“Sekarang lebih berorientasi pada penumbuhan santri tani millenial dan juga terkait dengan program bekerja untuk bantuan ayam. Untuk santri tani millenial di Jawa Barat yang akan kita tumbuhkan tahun ini, 850 kelompok santri tani millenial. Masing – masing kelompok akan mendapat bantuan sekitar 500 ekor ayam, pakan, kandang dan obat – obatan, termasuk ada pelatihan,” jelasnya.

Dikatakan Momon, satu kelompok santri tani millenial anggotanya 20 sampai 30 orang. Sebanyak 10 orang akan dilatih bagaimana melakukan budidaya ayam, termasuk juga pemasarannya. Selain itu, ia juga melakukan sosialisasi berbagai program – program kementerian pertanian, antara lain bantuan alat dan mesin pertanian, contohnya traktor roda dua. Juga ada bantuan untuk tanaman perkebunan untuk tebu. Bantuam untuk tanaman holtikultura dan program pertanian lainnya.

“Diharapkan dengan bantuan ini, Cirebon yang memang menjadi lumbung pangan Jawa Barat dan menjadi lumbung pangan nasional dapat lebih ditingkatkan lagi. Sehingga petaninya lebih sejahtera, kedaulatan pangan terwujud, dan insyallah Indonesia jaya,” terangnya.

Momon juga mengatakan, mekanisme pemberian bantuan budidaya ayam tersebut dibagi beberapa tahap. Pertama yaitu sosialisasi sudah dilakukan. Kedua yaitu identifikasi dan verifikasi. Jadi pondok pesantren yang memang punya potensi agribisnis dalam satu pondok itu boleh menerima lebih dari satu kelompok.

“Contoh tadi misalkan santri taninya 400, punya lahan untuk pengembangan agribisnis, boleh menerima sampai 3 kelompok. Artinya 3 kelompok santri tani berarti sekitar 90 santri, ini akan mendapat bantuan. Setelah identifikasi dan verifikasi, kemudian kita akan berikan bimbingan dan pelatihan, pembuatan kandang, baru ayamnya dikirim dan akan dikawal oleh petugas yang ada di UPT, diantaranya UPT Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang, UPT Balai Besar Peternakan Cinagara, Polbangtan Bogor, Pusat pelatihan menejemen dan kepemimpinan Ciawi, itu akan mengawal program ini,” paparnya.

Momon menambahkan, untuk jumlah pondok pesantren yang akan menerima bantuan tergantung dari hasil indentifikasi dan verifikasi. Di Cirebon salah satu penerima bantuan ke tiga terbanyak di Jawa Barat. Pondok pesantren terbanyak pertama yaitu Bogor, kemudian Tasik dan ketiga Cirebon. Di Cirebon kurang lebih sebanyak 85 kelompok.

“Tahap penyerahan bantuan ayam ini sudah dimulai. Saat ini kita proses identifikasi dan verifikasi sedang dilakukan. Nanti ada pelatihan, penyerahan ayamnya belakangan. Jadi dilatih dulu. Pada saat latihan juga nanti bikin kandang. Baru nanti ayam (diserahkan) ditambah pakan dan obat – obatan,” imbuhnya.

Sementara soal realisasi penyerahan bantuan ayam, Momon belum mengetahui secara pasti kapan waktu penyerahannya bisa dilaksanakan. Hal itu dikarekan ada proses lelang dalam pengadaan bantuan ayam tersebut. Namun soal kegiatan pelatihan, ia optimis pada April 2019 sudah bisa diselesaikan.

“Di Cirebon agak banyak sehingga hanya bisa 10 kelompok sisanya lelang. Itu mungkin bulan Mei – Juni sudah selesai. Tapi proses pelatihan mudah – mudahan April sudah beres. Ya 78 kali 10 orang kan 780 tapi kalo Jawa Barat 850 kali 10 sudah 8.500 harus dilatih. Secara nasional ada 4.000 (kelompok). Berarti 4.000 kali 10 ada 40.000 harus saya latih. Itu kan perlu waktu. Saya target Juni – Juli tinggal evaluasi,” timpalnya.

Momon menjelaskan, jika program tersebut berhasil, kemungkinan besar akan lebih dikembangkan lagi. Disebutkan, dulu pernah ada program namanya LM3 Lembaga Mandiri Mengakar Masyarakat, cuma dulu bantuan tersebut lebih menyasar kepada pondok pesantrennya. Sementara sekarang bantuan tersebut lebih kepada santrinya.

“Santri Tani Millenial ini diharapkan tidak hanya nantinya ahli dalam agama, tetapi juga mempunyai lifeskill, keahlian untuk hidup. Sehingga nanti di masyarakat selain bisa menyebarkan keagamaan, dia juga punya keahlian. Sebetulnya tidak hanya di program ayam. Tetapi program yang pertama ayam, ada juga program sapi, program untuk padi dan lain – lain. Namun sementara prioritas untuk yang ayam dulu. Tapi jika berpotensi pengembangan lainnya, silahkan ajukan kami siap mengusulkan,” pungkasnya. (is/ta)

Penyunting : wanto

LEAVE A REPLY

19 + 5 =