RSIA Khalishah Telat Merujuk, Diduga Jadi Penyebab Kematian Bayi Ahmad

RSIA Khalishah Telat Merujuk, Diduga Jadi Penyebab Kematian Bayi Ahmad

3076
0
SHARE
Salah satu bukti dokumen atas tindakan penanganan medis oleh RSIA Khalisah Palimanan kepada Saudari Dede Ulum Kulsum.

CIREBON (R) – Kematian bayi Ahmad Abdul H.Q anak dari pasangan Dede dan Maman warga Sitiwinangun, yang juga sebagai salah satu pasien RSIA Khalishah Palimanan, memunculkan banyak pertanyaan. Apa benar bayi yang tidak berdosa itu, meninggal karena kelalaian tindakan medis ?.

Tim Republiqu pun mencoba menggali lebih dalam keterangan dari ibu Dede Ulum Kulsum, karena ialah yang saat itu melahirkan langsung buah hatinya, Ahmad Abdul H.Q saat bertaruh nyawa diruang operasi bersama tim medis RSIA Khalisah Palimanan.

Berdasarkan pengakuannya, kenyakinan Dede mempercayakan persalinan buah hatinya ke RSIA Khalisah Palimanan, bukan tanpa sebab ataupun karena adanya paksaan. Keyakinannya tersebut justru karena pengalamannya yang ia rasakan sendiri, saat pertama kali mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Ibu dan Anak (Khalisah) tersebut.

“Saya memilih rumah sakit (Khalisah) itu, awalnya karena pelayanannya sesuai harapan saya. Saat itu waktu kandungan saya ini tujuh bulan atau kurang lebih 30 minggu, saya saat itu terjatuh. Karena takut terjadi apa – apa, saya memeriksakan kandungan saya ke rumah sakit Khalisah. Saat itu yang menangani adalah dokter Halim. Enak pelayanannya ramah, baik, sesuai sama harapan saya,” terang Dede.

Setelah menjalani pemeriksaan yang pertama kali di RSIA Khalisah, Dede mengaku ditangani dengan benar oleh dokter rumah sakit (Khalishah) itu. Bahkan saat itu, dokter Halim yang menanganinya, mengecek langsung kandungan Dede dengan melakukan USG, untuk mengetahui posisi janin didalamnya dan juga untuk mengetahui adanya kemungkinan – kemungkinan lain yang bisa saja timbul akibat musibah itu.

“Waktu itu saya masih ingat, dokter Halim yang mengecek sendiri kondisi kandungan saya. Setelah diperiksa, saya diberitahu ari – ari bayi dikandungan saya turun. Posisinya sudah pembukaan satu. Cuma karena saat itu janinnya diberitahu masih kecil (beratnya) 1,1 kg. Akhirnya saya cuma dirawat di (RSIA) Khalisah dan tidak jadi dilakukan operasi caesar,” jelasnya.

Setelah dirawat beberapa hari, akhirnya Dede diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit (Khalisah). Sejak itulah banyak kejadian – kejadian aneh, seperti mules, sakit perut, kram sering dirasakan Dede. Puncaknya adalah pada tanggal 2 Juli 2019, ia mengalami sakit yang tidak tertahankan pada perutnya. Dari situlah kemudian ia dilarikan ke rumah sakit (Khalishah) lagi, untuk mendapatkan penanganan medis.

“Waktu itu, seingat saya tanggal 2 Juli, hari Kamis malam Jumat sekitar jam 10, perut saya kram. Sakitnya luar biasa. Kemudian akhirnya saya dibawa kerumah sakit Khalisah lagi. Kenapa memilih (RS) Khalisah saat itu, karena menurut saya waktu perawatan yang pertama ditangani benar, jadi atas dasar itulah saya ke (RS) Khalisah lagi. Harapannya seperti saat dirawat pertama kali,” ungkap Dede.

Setelah sampai di rumah sakit (Khalishah), saat itu Dede didampingi oleh ibu Farisyah langsung dibawa ke ruang tindakan. Sementara, ibu Farisyah diminta untuk melakukan pendaftaran ke bagian pelayanan. Awalnya Dede berfikir, rumah sakit (Khalishah) tidak akan melakukan tindakan operasi caesar. Ia hanya berfikir paling cuma akan dilakukan tindakan untuk meredakan rasa sakit dan kram diperutnya saja. Mengingat usia kandungannya saat itu sekitar 34 minggu atau 8 bulan.

“Pertama masuk ke rumah sakit (Khalisah) juga, dikirain cuma diobati saja. Tapi setelah dilakukan pemeriksaan dan segala macamnya, saya diberitahu untuk tenang dan menunggu perkembangan selanjutnya. Kemudian setelah itu saya dibawa keruang tindakan. Kemudian saya di infus dan dimasukkan selang kencing,” paparnya.

Setelah adanya tindakan itu, Dede kemudian diberitahu oleh salah satu perawat, bilangnya nanti akan ada tindakan operasi setengah 6. Difikir Dede, berdasarkan pengalaman persalinan anaknya yang ke dua, biasanya sebelum operasi itu ada tindakan lain, seperti USG atau pengecekan detak jantung bayi lagi oleh perawat, tetapi itu tidak ada.

“Saat itu sehabis subuh, saya langsung dibawa ke ruang operasi. Saat itu perawat sendiri tidak menjelaskan kondisi bayi seperti apa. Saya langsung dibawa masuk ke ruang operasi. Kemudian selanjutnya dilakukan tindakan operasi caesar oleh dokter AF (inisial). Saat operasi itu, suami saya juga belum ada di rumah sakit. Cuma bu Farisyah saja yang ada di rumah sakit (Khalishah),” bebernya.

Dilanjutkan Dede, pada saat operasi persalinan berlangsung, ia mengaku perutnya ditekan oleh salah satu tim medis yang ada disitu menggunakan plastik kemasan infusan. Ia tidak mengerti kenapa itu dilakukan. Yang jelas Dede saat itu masih dalam keadaan sadar dan masih bisa merasakan sebagian anggota tubuhnya.

“Setahu saya memang kalo operasi caesar itu kan cuma dibius lokal kan ya. Tidak sekujur tubuh dilakukan bius. Makanya saat persalinan itu saya masih sadar. Setelah itu alhamdulillah (jam 06.05 wib), bayi saya lahir, jenis kelaminnya laki – laki. Berat 1,8 kg panjang 40 cm. Karena sadar bayi saya premature akhirnya dirawat lagi yang menangani dokter (Fa) spesialis anak,” ungkap Dede.

Setelah dirawat kurang lebih 3 hari, Dede akhirnya diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit (RSIA) Khalishah. Namun saat itu, cuma ibunya saja yang diperbolehkan pulang. Sementara bayinya belum diperbolehkan dibawa pulang oleh pihak rumah sakit (RSIA) Khalishah, karena masih dalam masa perawatan.

“Selama tiga hari saya dirawat. Kemudian saya dibolehkan pulang. Di hari pertama dirawat pasca operasi caesar, saya tidak diperiksa oleh dokter. Karena pada saat itu, dokter melakukan pemeriksaan pasien, sayanya lagi di kamar mandi, jadi tidak diperiksa oleh dokter, jadi dilewat. Barulah di hari kedua saya diperiksa (oleh dokter AF),” ucapnya.

Sementara itu, terkait kondisi kesehatan bayi Ahmad Abdul H.Q yang dirawat dirumah sakit (RSIA) Khalisah, Maman selaku suami Dede mengungkapkan, pada hari ketiga kondisi bayi itu belum mengalami perkembangan yang berarti. Namun menurut Maman pihak rumah sakit (Khalishah) akan terus memantau perkembangannya sampai tiga hari kedepan.

“Saat itu pikir saya, tim tenaga medis (RSIA) Khalishah bisa menangani permasalahan yang sedang dihadapi anak saya. Sehingga saat itu saya masih memberikan waktu kepada pihak rumah sakit (Khalishah) dengan harapan adanya perkembangan agar kesehatannya membaik. Tetapi pas enam hari dirawat, justru kondisinya malah menurun, inilah yang kemudian timbul pertanyaan, sebenarnya mampu tidak pihak rumah sakit (Khalishah) menangani permasalahan anak saya,” tegasnya.

Sadar perkembangan dan kondisi bayinya menurun, Maman kemudian segera memindahkan bayi Ahmad, buah hatinya, ke RSUD Gunung Jati. Di rumah sakit berplat merah itulah, bayi Ahmad diberikan tindakan agar kesehatannya bisa membaik. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan dari pihak RSUD Gunung Jati, bayi Ahmad mengalami masalah pada pernafasannya. Saat itu menurut dokter RSUD Gunung Jati, paru – parunya belum siap. Dan di hari kesepuluhnya, bayi Ahmad akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Dari situlah kemudian Maman menduga, ada kejanggalan dalam penanganan tindakan medis, yang diduga dilakukan oleh oknum tenaga medis RSIA Khalishah, baik kepada ibunya ataupun juga kepada bayinya.

“Jika kita tarik ke belakang, bagaimana kronologis sebab dan akibatnya itu bisa terjadi, saya berani menyimpulkan bahwa dugaan malpraktek itu, (yang diduga dilakukan oleh oknum tim medis RSIA Khalishah Palimanan), bisa saja itu disebabkan karena ketidakcermatan dalam pengambilan sebuah keputusan dalam tindakan medis. Disitu ada sebuah bentuk “coba – coba” (tanda kutip) dalam pengambilan keputusan untuk menentukan tindakan medisnya,” cetus Maman.

Seandainya, menurut Maman, jika memang pihak rumah sakit (Khalishah) pada saat itu menyadari sejak awal, kasus bayi Ahmad dalam rahim Dede ini resikonya terlalu besar, seharusnya jangan “coba – coba”. Karena yang menjadi pertaruhannya itu adalah nyawa manusia. Hal tersebutlah yang kemudian memunculkan berbagai macam dugaan – dugaan dan spekulasi, yang mengarah kepada kemungkinan adanya ketidakcermatan dan unsur pemaksaan kehendak oleh pihak RSIA Khalishah Palimanan.

“Jika memang dalam keadaan yang sangat tidak memungkinkan untuk menangani kasus kesehatan bayi Ahmad pada saat itu, seharusnya (pihak rumah sakit Khalishah) jangan memaksakan kemampuannya, untuk menyanggupi penanganan medis yang dialami dan menimpa bayi Ahmad anak saya. Apakah tidak ada opsi atau pilihan lain, selain “mencoba” (dalam tanda kutip) menanganinya sendiri. Tentu saja itu dilihat dari segi fasilitas dan peralatan kesehatan yang ada, apakah sudah sesuai standar dan bisa digunakan untuk situasi khusus seperti bayi Ahmad yang lahir dalam kondisi premature. Atau mungkin karena perlakuan yang kurang cermat dalam menangani kondisi bayi yang prematur,” jelas Maman.

Intinya dalam permasalahan itu, Maman ingin membuktikan dugaan malpraktek (di RSIA Khalisah Palimanan) untuk bisa dibuktikan dan dibedah, baik secara sisi kemanusiaannya ataupun secara sisi hukumnya. Tujuannya agar kedepan, kejadian yang menimpa dan dialaminya itu, tidak terjadi lagi kepada siapapun. Apalagi bagi masyarakat yang tidak mengerti tentang hukum dan dunia medis. Karena kedua hal itu menurut Maman sulit untuk dimengerti. Apalagi bagi masyarakat yang awam, bagaimana mereka bisa menuntut keadilan yang seadil – adilnya bagi mereka, jika aturannya saja mereka tidak mengerti.

“Saya sangat yakin dan percaya, bahwa tidak ada manusia yang benar – benar sempurna. Semua bisa melakukan kelalaian dan kesalahan. Maka dari itu saya akan menuntut dan menyeret semua yang terlibat dalam permasalahan ini, agar kasus ini benar – benar jelas dan semua kebenarannya akan terbuka. Ingat tidak ada satu manusia pun yang ingin dijadikan kelinci percobaan dunia medis dengan alasan apapun. Termasuk juga istri dan anak saya,” tegas Maman. (tim)

LEAVE A REPLY

4 − 3 =