Pelaku Pemerkosaan Disabilitas Di Talun Belum Ditetapkan Tersangka

Pelaku Pemerkosaan Disabilitas Di Talun Belum Ditetapkan Tersangka

291
0
BERBAGI

CIREBON (rq) – Kasus pemerkosaan yang menimpa AN warga Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon masih bergulir di meja penyidik Polres Kota Cirebon. Sejak dilaporkan pada 4 Agustus 2020 lalu, sampai saat ini tersangka berinisial CY alias Garong, yang juga tetangga korban, masih berkeliaran bebas alias belum ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik.

Kepada awak media, keluarga AN mengungkapkan kekecewaannya atas proses penyelidikan kasus tersebut. Menurutnya sampai dengan per saat ini, pelaku belum ditetapkan sebagai tersangka dan masih dibiarkan bebas.

“Yang datang ke Polres (Kota Cirebon), buat laporan waktu itu, Bapak dan Kakaknya (korban). Seingat saya awal bulan Agustus kemarin (2020). Tapi sampai sekarang pelaku belum juga ditahan. Padahal saksi – saksi sudah dipanggil. Kata penyidiknya sih keterangan pelaku dan korban berbeda,” ujar adik korban Tio di kediamannya, Minggu (11/10/2020).

Sementara itu dihadapan awak media, Ibu Korban kembali menceritakan kronologis terjadinya pemerkosaan tersebut. Menurut pengakuan anaknya yang menjadi korban pemerkosaan, anaknya tersebut mengalami gangguan pendengaran dan tidak bisa berbicara.

“Memang anak saya (korban) itu berkebutuhan khusus. Tapi masih bisa komunikasi dengan isyarat. Awalnya sih keluarga itu tidak tahu mas. Karena anak saya diancam mau dibunuh kalau cerita. Makanya gak ngasih tahu. Tapi makin lama perutnya makin besar, Akhirnya keluarga curiga,” ujar Ibu kandungnya MM.

Advertorial

Atas kecurigaan tersebut, lanjutnya, keluarga akhirnya mendesak korban supaya mengaku dan menceritakan kejadian pemerkosaan itu, yang diketahui terjadi sekitar bulan Januari 2020.

“Awal pertama kejadian, anak saya mau membeli bakso. Kemudian ketemu dengan pelaku, terus ditarik, dibawa ke tempat sepi, tepatnya di dekat kuburan. Terus anak saya diancam dan disetubuhi pelaku. Lalu disuruh pulang dan diancam lagi sama pelaku, kalau sampai cerita ke orang rumah, kamu saya bunuh,” akunya.

Dikatakannya, mungkin karena merasa aman, akhirnya pelaku mengulangi perbuatannya lagi sampai dengan empat kali. Menurut korban, setiap kali selesai melakukan hubungan, seperti biasa korban selalu diancam akan dibunuh oleh pelaku, jika menceritakan persoalan itu ke orang tuanya.

“Keluarga mulai curiga itu, sejak korban sering ngeluh sakit di daerah kemaluan. Itu sekitar bulan Maret 2020 kalau tidak salah. Tapi waktu itu perutnya belum besar. Lebih curiga lagi pas anak saya ini tidak haid. Dari situ kemudian diperiksakan ke bidan, ternyata hasilnya positif hamil,” ungkapnya.

Terkait kelengkapan bukti penyelidikan, pihak keluarga mengaku telah melakukan visum. Bahkan menurut keluarga korban, dokter yang menanganinya pun mengakui, bahwa korban tersebut mengalami trauma akibat pemaksaan dan kekerasan.

“Kami dari pihak keluarga korban, ingin kasus ini segera diproses. Apalagi anak saya sampai sekarang masih trauma. Memang pihak keluarga pelaku minta anaknya dikawinkan. Tapi anak saya ketakutan, tidak mau dikawin sama pelaku,” paparnya.

Terkait hukuman perbuatan tersebut, pihak keluarga meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya. Karena menurut pihak keluarga korban, pelaku telah melecehkan kehormatan anaknya berulang kali, apalagi anaknya tersebut adalah seorang disabilitas.

“Sudah tau anak saya itu berkebutuhan khusus. Ini kok tega diperlakukan seperti itu. Kami merasa terhina mas. Pokoknya kami minta pelaku dihukum seberat – beratnya. Kami meminta kepada Kepolisian supaya pelaku cepat ditahan,” pungkasnya. (is/ta)

LEAVE A REPLY

13 + nine =