Merasa Ditipu, Pedagang Kios Cirebon Girang Tuntut Ganti Rugi

Merasa Ditipu, Pedagang Kios Cirebon Girang Tuntut Ganti Rugi

1238
0
BERBAGI
Sejumlah ruko pedagang Cirebon Girang sudah mulai berjualan meski bermasalah dengan izin bangunan.

CIREBON (R) – Permasalahan perizinan bangunan kios atau ruko di Dusun Talun RT. 007 RW. 003 Desa Cirebon Girang mulai memanas. Masyarakat pedagang yang telah menempati kios tersebut, merasa ditipu oleh pihak pengembang atau kontraktor.

Masalah ini terkuak ketika tim Satpol PP Kabupaten Cirebon, selaku garda penegak perda, turun ke lapangan dan langsung melakukan sidak ke lokasi bangunan ruko yang diduga bodong tersebut, Rabu siang, (11/9/2019).

Berdasarkan informasi yang dihimpun tim Republiqu di lokasi kejadian, kedatangan rombongan tim Satpol PP adalah untuk mengecek bangunan kios yang mulai beroperasi. Padahal sampai saat ini bangunan kios tersebut tidak memiliki izin alias bodong.

Rombongan yang dikomandoi langsung oleh Kepala Bidang Penegakkan Perda Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Cirebon Iwan Suroso, sempat mendapat penolakan dari para pedagang. Situasi memanas lantaran pedagang diminta tidak berjualan selama belum ada perizinan.

Perwakilan pedagang sekaligus pemilik kios, yang minta disebut namanya Mister Ex alias P (inisial) mengungkapkan, ia merasa dibohongi dan ditipu oleh pihak kontraktor, dalam hal ini adalah Joko Susilo selaku penanggung jawab sekaligus kontraktor bangunan kios tersebut.

Menurut Mister Ex, pihak pengembang ataupun marketing pada saat itu, tidak berkata jujur perihal perizinan bangunan kios tersebut. Tidak ada informasi mengenai perizinan ataupun pemberitahuan kepada calon konsumen, bahwa bangunan kios tersebut belum memiliki izin.

“Jelas kami sangat dirugikan atas kasus ini. Sudah dibohongi, ditipu juga. Pokoknya kami tidak mau tahu. Kami tidak mau terlibat dalam kasus ini. Kami akan tuntut kontraktor (Joko Susilo) jika masalah ini tidak selesai. Kami itu kaya dianggapnya bodoh oleh mereka (kontraktor). Pokoknya kami menuntut ganti rugi,” jelasnya.

Terkait hak sewa pakai bangunan kios tersebut Mister Ex mengaku telah menunaikan kewajibannya dengan membayar lunas hak sewa untuk tiga tahun kedepan, yaitu sebesar kurang lebih 15 juta rupiah. Namun ia sangat kecewa dan merasa ditipu setelah kasus ini muncul dan mengganggu aktifitas usahanya.

“Kami itu kurang apa. Hak sewa sudah kita bayar lunas. Iuaran harian katanya buat keamanan dan maintenance, kami tidak pernah komplain. Tapi kok jadi seperti ini. Kami disini itu bayar woy, bukan numpang. Jadi sangat jelas sekali kami dirugikan. Baru buka (jualan) dua hari, suruh tutup lagi. Rugi dong kita,” ungkapnya.

Dijelaskan Mister Ex, setelah muncul kasus seperti itu, ia dan sejumlah pedagang lainnya yang diperkirakan lebih dari 24 kios akan musyawarah untuk mendesak kontaktor (Joko Susilo) agar segera menyelesaikan permasalahan ini. Ia dan pedagang lainnya tidak mau menanggung resiko dan kerugian atas kasus bangunan ilegal tersebut.

“Yang jelas kami ingin semuanya selesai. Pengen usaha kami lancar. Jangan ada gangguan. Kalau gara – gara kasus ini pedagang tidak boleh jualan, saya menolak. Ini hak kami untuk jualan. Kami sudah bayar lunas. Itu urusan kontraktor. Makanya kami akan mendesak Joko Susilo untuk segera selesaikan. Kami tidak mau tahu,” pungkasnya.

Sementara itu usai sidak bangunan kios tersebut, Kepala Bidang Penegakkan Perda Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Cirebon Iwan Suroso, enggan memberikan statemen terkait kegiatannya hari itu. Namun berdasarkan informasi, Satpol PP sudah mengeluarkan surat peringatan pertama untuk menghentikan aktifitas perdagangan bangunan kios tersebut, selama belum memiliki perizinan resmi dan sah dari pemerintah. (tim)

LEAVE A REPLY

one × 1 =