Otih Handayani Bicara Soal Hak Buruh

Otih Handayani Bicara Soal Hak Buruh

441
0
SHARE
Otih Handayani saat memaparkan perihal hak - hak normatif buruh dalam acara Konfederasi Serikat Pekerja FSPS Singaperbangsa.

CIREBON (R) – Pekerja, Buruh ataupun Karyawan adalah manusia biasa. Mereka menjual tenaga, waktu dan keahlian mereka, untuk mencari uang. Siapapun yang menggunakan “jasa” mereka, tentu berkewajiban membayar keringatnya.

Salah satu orang yang peduli dengan perjuangan hak – hak buruh adalah Otih Handayani. Ia adalah perempuan yang aktif menyuarakan hak – hak perlindungan dan kesejahteraan buruh. Bahkan ia sering menjadi pembicara dalam berbagai forum, yang berkaitan dengan buruh.

Kepada Republiqu, Otih mengungkapkan, buruh atau pekerja, haknya dilindungi oleh pemerintah melalui Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Disitu tertulis jelas bahwa buruh memiliki hak dan kewajiban yang harus dijalankan, baik secara prosedural maupun peraturan perUndang – Undang.

“Saya melihat permasalahan atau perselisihan antara pekerja dengan perusahaan, umumnya adalah soal hak dan kewajiban. Buruh hanya menuntut hak – hak normatifnya, agar dijalankan sesuai dengan peraturan yang berlaku,” jelasnya usai mengisi acara Konfederasi Serikat Buruh FSPS Singaperbangsa di Arjawinangun, Minggu (6/1/2018).

Otih Handayani yang juga seorang calon anggota DPRD Provinsi Jawa Barat di Dapil 12 mengatakan, sekarang ini mulai muncul kesadaran dari para buruh, untuk menyuarakan haknya kepada perusahaan ataupun pemerintah. Umumnya, buruh yang berani bersuara menuntut haknya, adalah mereka yang telah menjadi anggota serikat pekerja.

“Dalam peraturan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, pekerja atau buruh diberikan hak dan kebebasan untuk berserikat. Mereka juga diperbolehkan untuk memilih serikat pekerja apapun, yang ada di wilayah kerjanya,” terang Otih.

Ia juga menuturkan, kebebasan berkumpul dan berserikat, sudah dijamin dalam Undang – Undang Dasar. Adanya serikat pekerja merupakan hak asasi para buruh, untuk menyuarakan dan memperjuang hak – haknya, yang belum terpenuhi ataupun belum dilaksanakan oleh perusahaan.

“Saya rasa forum – forum seperti ini, punya peran besar dalam menyuarakan hak – hak buruh. Mereka juga adalah Warga Negara Indonesia, yang dijamin hak dan kewajibannya oleh Undang – Undang. Saya berharap kepada pihak perusahaan, agar dapat mematuhi peraturan per Undang – Undangan. Karena setiap keuntungan dan besarnya sebuah perusahaan, pasti karena adanya keringat buruh,” tuturnya.

Sementara itu, mengenai jaminan sosial para buruh Otih menerangkan, hal tersebut merupakan salah satu kewajiban perusahaan yang harus dipenuhi dan diberikan kepada para buruh. Diantara yang wajib adalah jaminan ketenagakerjaan maupun jaminan kesehatan.

“Kalau kedua jaminan itu sudah menjadi kewajiban perusahaan dan merupakan hak para buruh, sudah sewajarnya kedua belah pihak menyadari hal itu. Pemerintah dalam hal ini, seharusnya juga tidak hanya sebagai pembuat Undang – Undang saja, tetapi juga harus mengawasi serta mampu menindak tegas, para pengusaha yang melanggar peraturan,” tambahnya.

Otih kedepan, akan berupaya untuk mencoba ikut mengawal perjuangan hak – hak buruh, sesuai dengan peraturan PerUndang – Undangan. Harapannya agar hak – hak normatif para buruh, dapat dilaksanakan dan iklim investasi dapat terjaga serta kehidupan para buruh semakin sejahtera. (ta/is)

Penyunting : wanto

LEAVE A REPLY

six + 7 =