Otih Handayani Tenaga Ahli DPR RI Belajar Tari Topeng Khas Cirebon

Otih Handayani Tenaga Ahli DPR RI Belajar Tari Topeng Khas Cirebon

346
0
SHARE
Otih Handayani, (paling kanan) berfoto dengan maestro tari topeng Cirebon versi Palimanan, mimi Nani Kadmini, yang juga sebagai pimpinan sanggar topeng Wulan Sari Gempol Cirebon.

CIREBON (R) – Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya. Kata sederhana itu, diakui Otih memiliki makna dan arti yang sangat luas. Di Jawa Barat sendiri, khususnya di wilayah Cirebon, terdapat peninggalan budaya dan kesenian yang sampai saat ini masih terus dilestarikan. Salah satunya adalah kesenian tradisional yaitu Tari Topeng.

Otih Handayani yang notabene sebagai salah satu perempuan yang aktif di lingkungan DPR RI, merasa terpanggil untuk melestarikan budaya Cirebon. Tak tanggung – tanggung, ia pun sampai mempelajari gerakan – gerakan dasar menjadi seorang penari topeng Cirebon, salah satunya adalah tari topeng kelana.

Sebagai Tenaga Ahli Partai NasDem untuk Komisi IX DPR RI, Otih selalu berkunjung ke daerah – daerah yang tersebar diberbagai wilayah di Indonesia. Baik dari perkotaan maupun pelosok – pelosok desa. Hampir disetiap kunjungannya itu, budaya dan kesenian lokal selalu menjadi sambutan yang dipamerkan kepada para tamu yang hadir.

Sadar akan hal itu, Otih Handayani yang saat ini juga mencalonkan diri sebagai calon legislatif DPRD Provinsi Jawa Barat Dapil Jabar 12, Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon dan Indramayu dari partai NasDem, sangat ingin melestarikan kesenian tradisional yang ada diwilayah tersebut. Salah satunya yaitu tari topeng.

Menurutnya, tari topeng Cirebon bukan hanya dipamerkan dtingkat lokal saja, melainkan sudah mendunia dan dipertontonkan ke jutaan pasang mata di seluruh dunia. Itulah yang kemudian semakin mendorong semangatnya, untuk mengenal dan mempelajari gerakan menjadi seorang penari topeng.

Kepada Republiqu, wanita yang akrab disapa Otih ini menjelaskan sedikit tentang tarian topeng yang dipelajari dengan gaya khas daerah Palimanan Cirebon. Menurutnya ada berbagai macam jenis tarian topeng yang sampai saat ini masih terus dilestarikan oleh para maestro seniman topeng. Salah satunya adalah maestro tari topeng khas Palimanan yaitu ibu Nani Kadmini.

“Ada banyak tarian topeng yang ada di Cirebon. Selama ini yang saya tahu hanya topeng kelana, topeng panji, tanpa saya ketahui ada perbedaan dari setiap gerakan yang ditampilkan. Selain itu, tari topeng juga ternyata terbagi beberapa versi, diantaranya ada yang versi Losari, versi Slangit, versi Gegesik, versi Palimanan dan ada pula versi Indramayu. Yang saya pelajari kali ini adalah yang versi Palimanan,” ungkapnya.

Dikatakan Otih, berdasarkan penjelasan dari pimpinan sanggar topeng Wulan Sari Gempol, mimi Nani Kadmini, perbedaan beberapa versi tersebut yang pertama terletak pada aransemen musiknya. Khusus versi Palimanan yang dipelajarinya, gaya musiknya hampir sama dengan tari topeng versi Slangit. Yang berbeda jauh itu versi topeng gaya Losari.

“Untuk jenis topengnya sendiri, ada 5 bentuk ekspresi yang berbeda. Itu disesuaikan dengan karakter dan wataknya masing – masing. Dari 5 jenis topeng yang ada itu diantaranya adalah topeng Panji, topeng Samba, topeng Rumyang, topeng Tumenggung dan topeng Kelana atau Rahwana,” terangnya.

Masih menurut Otih, topeng Panji melambangkan hati atau kesucian. Karakternya yaitu halus, lemah lembut, gerakannya juga seperti orang sedang sholat, cara beribadahnya orang Islam. Topeng Panji juga menggambarkan seperti bayi yang baru lahir masih suci dan polos, tidak berambut. Sehingga penuh dengan penghayatan. Kostumnya pun serba putih, yang menggambarkan kesucian.

“Sementara urutan yang kedua adalah topeng Samba atau pamindo (bahasa jawa) yang artinya dua. Karakternya ganjen. Dilambangkannya dengan mata dan rambut kepala. Gerakannya sangat lincah. Merefleksikan anak balita yang senang bermain dan aktif,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Otih, yang ketiga adalah Rumyang atau ramyang – ramyang. Atau sudah akhil baligh, karakternya perempuan atau remaja. Dilambangkan dengan hidung yang mancung dengan warna muka merah jambu. Diterjemahkan sebagai penemuan jati diri yang sesungguhnya. Mulai tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa dari fase sebelumnya.

“Yang ke empat adalah Tumenggung. Menggambarkan sosok yang lebih dewasa dan berwibawa. Dalam kerajaan, Tumenggung di ibaratkan sebagai patih. Dilambangkan dengan bibir dan berkumis tipis. Karakternya berwibawa dan merefleksikan sudah memiliki tanggung jawab dalam kehidupan,” paparnya.

Topeng yang ke lima, sambung Otih adalah topeng Kelana atau Rahwana. Sebagai puncak atau fase manusia yang paling akhir. Digambarkan sebagai sosok yang jahat, sombong, angkuh dan serakah. Dari lima jenis topeng tersebut, ceritanya menggambarkan sisi kehidupan manusia. Dari yang awalnya suci bersih seperti bayi yang digambarkan seperti Panji. Dan kemudian akhirnya mencapai puncak kedewasaan yang penuh dengan hawa nafsu, sifat sombong, angkuh dan serakah, seperti yang digambarkan topeng Kelana atau Rahwana.

“Inilah yang membuat tari topeng itu sangat luar biasa dan istimewa. Selain gerakannya yang sangat khas. Disetiap karakternya pun mempunyai cerita dan filosofinya masing – masing. Bukan cuma itu, musik yang mengiringi setiap topeng juga berbeda – beda. Rahwana diiringi musik gonjling, topeng Tumenggung diiringi temenggungan, topeng Rumyang diiringi kembang buncis, topeng Samba diiringi kembang kapas dan Panji diiringi kembang sungsang,” gamblangnya.

Dengan mempelajari kesenian tari topeng Cirebon, Otih berharap besar kepada para generasi muda khususnya di wilayah Cirebon dan sekitarnya, agar lebih tertarik dan mau belajar mendalami seni tradisional tari topeng. Menurutnya jika generasi muda sudah tidak tertarik lagi dengan budaya dan kesenian tradisional, warisan leluhur itu bisa dipastikan akan punah dan tidak akan ada lagi yang meneruskan pelestariannya.

“Saya sangat berharap besar kepada generasi muda sekarang agar mau belajar budaya dan tradisi yang ada. Tari topeng adalah milik Cirebon. Ini adalah warisan budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Insyaallah, jika saya dipercaya dan diberikan amanat untuk duduk di kursi DPRD Provinsi Jawa Barat dapil Jabar 12, saya akan berusaha mengoptimalkan kesenian tradisonal sebagai warisan budaya,” pungkasnya. (is)

Penyunting : wanto

LEAVE A REPLY

12 − three =