MUI Palimanan Bahas Cebong dan Kampret

MUI Palimanan Bahas Cebong dan Kampret

698
0
BERBAGI

CIREBON (R) – Dewan Pengurus Cabang MUI Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon, menggelar kegiatan silaturahmi dan konsolidasi dengan para ulama setempat dan pemerintahan kecamatan Palimanan, Selasa (3/7/2018) di Aula Kantor Kecamatan.

Dalam kegiatan tersebut, MUI mengingatkan kepada para ulama akan pentingnya menjaga nilai ukhua Islamiah dan menangkal paham radikal di lingkungan tempat tinggalnya masing – masing, tak terkecuali pergaulan masyarakat di media sosial (medsos) yang saling hujat menghujat soal politik dan agama.

Ketua MUI Kecamatan Palimanan KH. Jafar Musaddad MPdi mengatakan, Kabupaten Cirebon khususnya kecamatan Palimanan sudah terjaga dengan baik. Tetapi, menurutnya, melihat perkembangan sekarang terutama media sosial, nampak banyak penggunaan bahasa kasar dan julukan-julukan yang tidak layak yang sering menjadi perdebatan di muka umum (medsos).

“Kita sangat prihatin dengan perkembangan dunia media sosial yang sangat liar, sehingga kegiatan ini kita anggap sangat penting dalam rangka membangun Ukhua Islamia. Jika kita ikuti perkembangan medsos, kata cebong dan kampret ini sangat sering dijumpai dan sensitif sekali, ” terangnya.

Dikatakannya, penggunaan bahasa cebong dan kampret tersebut, dinilai sangat rentan menimbulkan gesekan. Apalagi menurutnya, yang menjadi perdebatan adalah persoalan politik dan agama. Hal tersebut menjadi kekhawatiran bagi MUI dapat menimbulkan perpecahan dan saling hujat menghujat sesama muslim.

“Ini berbicara soal moralitas bangsa dan nilai budaya serta kearifan lokal. Kami melihat banyak yang menempatkan posisinya tidak pada tempat yang seharusnya. Mendebat soal agama, padahal ilmunya baru sampai tingkat madrasah, artinya kurang pemahaman dan pendewasaan diri,” tegasnya.

Hal tersebut menurutnya, perlu adanya penyadaran kepada masyarakat terhadap jati diri bangsa Indonesia yang menjunjung budaya sopan santun dan budi pekerti. Dirinya memandang perlu mengajak ulama, untuk ikut menyadarkan masyarakat agar kembali pada nilai – nilai kearifan lokal yang dulu pernah melekat dalam kehidupan bangsa Indonesia.

“Negara memberikan hak kepada masyarakat untuk mengemukakan pendapat di muka umum. Seluas – luasnya, sebebas – bebasnya. Namun perlu di ingat, harus ada filter yang menyaringnya agar tidak kebablasan,” ungkapnya.

KH. Jafar juga menambahkan, dalam memberikan edukasi kepada pengguna media sosial terutama usia-usia produktif, MUI memandang sangat penting untuk menjalankan kembali program MUI go to school.

“Dulu pernah ada program tersebut, namun belakangan entah ada aturan atau apa, sehingga kegiatan tersebut tidak berjalan. Padahal untuk lebih membentuk karakter yang sopan dan santun seharusnya dimulai dari usia produktif,” pungkasnya. (Narita)

Penyunting : Wanto

LEAVE A REPLY

one × five =