Supplier Minta Mayora Jangan Tutup Mata

Supplier Minta Mayora Jangan Tutup Mata

406
0
SHARE
Bangunan gudang Mayora yang berlokasi di wilayah Pangenan Kabupaten Cirebon.

CIREBON (R) – Supplier pembangunan gudang Mayora, yang berlokasi di wilayah Japura Lor kecamatan Pangenan kabupaten Cirebon memanas. Pasalnya, main cont (kontraktor utama) pembangunan gudang mayora, yaitu PT. Garuda Antarnusa Prima (Garuda), inkar janji terkait pembayaran hak oleh PT. Cipta Niaga Semesta (Mayora Group) yang diputus kontraknya dengan Garuda karena wanprestasi.

Karena masalah tersebut, sejumlah pembayaran supplier material pembangunan gudang Mayora, yang melalui PT. Garuda Antarnusa Prima mengalami kerugian dan belum dibayar hingga sekarang. Bukan cuma itu, sebanyak kurang lebih Rp 130 juta upah kuli (pekerja bangunan) yang menjadi hakĀ  mereka, sampai saat ini juga belum dibayar.

Deden selaku Koordinasi aksi mengatakan, gerakan penutupan akses pintu masuk pembangunan proyek Mayora, dilandasi kekecewaan para supplier dan mandor pekerja proyek yang belum dibayar oleh PT. Garuda Antarnusa Prima. Menurutnya perjanjian yang dibuat selalu dilanggar dan disepelekan oleh pihak Garuda dengan selalu mengulur – ulur waktu.

“Janji mau membayar (supplier dan kuli) itu semuanya bohong. Waktu audensi pertama di balai desa Japura Lor, (September 2019) yang dihadiri Muspika Pangenan, tidak ada satu pun janjinya yang dipenuhi. Bahkan surat perjanjian terakhir, (8 November 2019) kemarin, di ingkari juga. Jelas ini permainan. Berarti tidak ada itikad baik membayar hak supplier dan pekerja (kuli). Jadi kami minta Mayora jangan tutup mata,” jelasnya usai aksi, Rabu (20/11/2019).

Deden yang juga sebagai aktifis Cirebon Timur mengaku, Persatuan Supplier dan Pekerja akan terus menjalankan aksi didepan gudang Mayora sampai hari Sabtu, 23 November 2019, untuk menuntut hak para supplier dan pekerja agar segera dibayar. Menurut Deden, Mayora tidak bisa lepas tangan begitu saja terkait persoalan tersebut. Karena menurutnya bahan material dan tenaga pekerja menempel pada bangunan gudang Mayora yang saat ini hampir rampung itu.

“Aksi kami menutup operasional pembangunan gedung Mayora, karena ada hak para supplier dan pekerja. Gedung Mayora itu bisa berdiri sampai saat ini, karena material para supplier dan tenaga kuli yang saat ini masih belum dibayar. Yang jelas, sampai kapan pun Mayora tidak bisa lepas tangan, sebelum adanya pembayaran hak kepada para supplier dan kuli,” terangnya.

Sementara itu, Ahmad Alip salah satu supplier Mayora mengaku sangat kecewa dengan pihak Manajemen Mayora. Ia menganggap pihak Mayora hanya menyelamatkan dirinya sendiri tanpa memikirkan nasib para pekerja dan supplier pribumi. Padahal menurut Alip, modal sejumlah supplier itu tidak besar. Bahkan ia mengaku ada sebagian supplier yang modalnya berasal dari pinjaman alias hutang.

“Sekelas perusahaan multi nasional, tidak mungkin modal Mayora (cuma) ratusan juta. Beda dengan kami, untuk modal saja kadang kami mesti hutang. Saat audensi di balai desa Japura lor, waktu itu Heru perwakilan Mayora pernah bilang, dana yang dijaminkan melalui Bank Garansi hanya untuk Mayora saja. Tidak ada bagian supplier ataupun kuli. Dari pernyataan itu saja sudah jelas, Mayora cuma cari selamat sendiri,” ungkap Alip.

Ia mengaku, hasil dari audit pekerjaan dilapangan ada sekitar Rp 3,3 Milyar yang harus dibayarkan oleh pihak Garuda. Termasuk didalamnya adalah uang pembayaran material dan upah para pekerja bangunan yang di gandeng Garuda. Namun sampai saat ini, menurut Alip uang tersebut tidak jelas kapan turunnya. Sehingga nasib para supplier dan pekerja yang tersangkut pembayaran jadi terkatung – katung dan tidak pasti.

“Intinya tuntukan kami para supplier dan pekerja cuma satu, bayar hak kami. Terkait persoalan teknis dan prosedur hukumnya, silahkan Mayora yang atur dengan pihak Garuda. Yang jelas barang material kami dan keringat para kuli yang belum dibayar, sampai kapan pun akan tetap menempel pada bangunan gudang itu. Kami akan terus menuntut hak kami sampai dengan lunas,” paparnya.

Alip mengungkapkan, berdasarkan rekap piutang proyek pembangunan gudang Mayora ada 9 poin yang harus dibayar diantaranya :

1. Material H. Tulis sebesar Rp 904.759.115,-
2. Material Erick sebesar Rp 366.600.600,-
3. Material Alif sebesar Rp 92.370.000,-
4. Upah pekerja sebesar Rp 131.700.000,-
5. Material Yayat sebesar Rp 44.300.000,-
6. Material H. Khaelani sebesar Rp 301.666.360
7. Upah pekerja H. Khaelani sebesar Rp 88.000.000,-
8. Material Safawi sebesar Rp 10.465.000,-
9. Material Yus Naryadi sebesar Rp 198.450.000,-

(is)

LEAVE A REPLY

twenty − five =