Lapasustik Gintung Bekali Keterampilan Bagi Narapidana

Lapasustik Gintung Bekali Keterampilan Bagi Narapidana

283
0
BERBAGI
Napi Lapasustik Gintung mengikuti salah satu pemberdayaan keterampilan berupa anyaman rottan.

CIREBON (rq) – Ruang lingkup yang dibatasi nampaknya tidak membuat para narapidana di Lapas Narkotika Kelas IIA (Lapasustik) Gintung, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat berkecil hati.

Pasalnya, setelah bekerjasama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Cirebon, lapas tersebut telah berhasil memberdayakan warga binaannya dengan menerapkan berbagai macam pelatihan keterampilan, diantaranya servis dan pemeliharaan pendingin ruangan (AC), elektronik, pelatihan pangkas rambut, handycraft, pembuatan roti, pijat refleksi, studio musik, menjahit, rattan, dan pembenihan tanaman hias.

Semua kegiatan tersebut, bertujuan agar dapat bermanfaat bagi masyarakat, serta dapat menghilangkan mindset masyarakat terhadap Lembaga Pemasyarakatan.

Kepala Lapasustik Kelas IIA Cirebon Jalu Yuswah mengatakan, pihaknya melatih para narapidana bekerjasama dengan Balai Latihan Kerja (BLK).

“Jadi keterampilan yang kita pilihkan ini adalah keterampilan yang mudah dilaksanakan dan memang dibutuhkan oleh masyarakat,” ujarnya kepada awak media, Rabu, (29/7/2020).

Menurutnya, para napi tersebut diberikan pelatihan sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Sementara mengenai bahan-bahan untuk kegiatan tersebut telah disediakan oleh BLK, sesuai dengan kebutuhan masing-masing bidang pelatihan.

“Mereka kita berikan pilihan, setelah itu mereka memilih sendiri apa yang mereka inginkan, barangkali sesuai minat bakat mereka. Selama ini kita kerjasama dengan BLK, jadi selama ini dipenuhi oleh BLK, BLK sendiri yang bawa kesini bahan-bahan yang mereka butuhkan seperti apa,” katanya.

Jalu menjelaskan, para napi tersebut akan mendapatkan upah atas usaha mereka selama berada di dalam lapas, seperti contohnya yang di dapat dari kegiatan kerajinan rattan yang bekerjasama dengan salah satu perusahaan rattan dan beberapa penghasilan lainnya yang diberikan dalam bentuk tabungan, yang mana nanti akan diberikan pada saat sudah bebas.

“Harapan kita, mudah-mudahan itulah nanti untuk modal mereka. Ini sebenarnya kami sampaikan agar masyarakat tahu bahwa mereka disini di didik, di bina dan supaya sedikit membuat tenang keluarga,” ungkapnya.

Dikatakan Jalu, saat ini terdapat 460 warga binaan yang telah mengikuti kegiatan pelatihan tersebut dari jumlah total 750. Adapun sisanya masih mengikuti program rehabilitasi selama 6 bulan.

“Sampai hari ini, yang masih berlangsung dan yang sudah ada 460 warga binaan yang mengikuti dari total 750, sisanya sekarang lagi melaksanakan program rehab dan nanti selesai Desember, sisanya tahun depan mulai ikut kegiatan. Setelah rehab mereka kita ngikutin kegiatan sisanya. Rehab itu 6 bulan,” tukasnya.

Selain kegiatan tersebut, ia mengaku telah bekerjasama dengan pihak sekolah dalam memberikan edukasi terhadap para siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA). Menurutnya hal tersebut perlu dilakukan guna menekan angka kenakalan yang dilakukan para generasi milenial.

“Kita berikan edukasi langsung kepada mereka, agar mereka melihat situasi didalam itu seperti apa. Setelah itu, nanti mereka merasakan didalam sel kamar kurang lebih 15 menit sampai setengah jam, nanti setelah itu kita ajak ngobrol mereka. Karena kalau anak-anak milenial ini, kalau tidak dipraktekan langsung, tidak begitu yakin. Tapi setelah itu selain progres juga kami evaluasi. Kami juga menanyakan kepada beberapa sekolah yang sudah melakukan kunjungan ke kami, ya alhamdulillah angka kenakalannya sudah mulai turun drastis,” pungkas Jalu.

Sementara itu, salah satu warga binaan Lapasustik IIA Cirebon, Ilman Pratama mengaku senang mengikuti kegiatan pelatihan tersebut, selain dapat mengurangi rasa bosan dan jenuh, hal tersebut juga bermanfaat menjadi modal keterampilannya ketika nanti sudah kembali hidup bebas.

“Ketimbang jenuh tidak ada kerjaan, lebih baik seperti ini, kumpul sama temen-temen dapat ilmu yang tidak didapat dari luar. Bahannya dari petugas lapas, ini semua bekas mas, tidak ada yang baru. Alhamdulillah jadi kerajinan tangan dan bisa terjual kepada orang yang saat mengunjungi lapas,” ujarnya kepada awak media ketika diwawancarai disela-sela kegiatannya. (on)

LEAVE A REPLY

three × 2 =