Kuwu Panembahan : Penerima Bantuan Di Desa Kami Tak Sampai Ribuan

Kuwu Panembahan : Penerima Bantuan Di Desa Kami Tak Sampai Ribuan

269
0
BERBAGI
Abdul Kodir, Kuwu Panembahan Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon.

CIREBON (rq) – Tak senasib dengan desa-desa lainnya di Provinsi Jawa Barat yang mengalami pengurangan jumlah penerima bantuan sosial (Bansos) dari pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Pemerintah Desa (Pemdes) Panembahan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat mengaku tidak mengalami hal tersebut. Karena sebanyak 125 data penerima bantuan tersebut merupakan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

“Untuk banprov, data kami memang sedikit DTKS tuh, tapi valid. Jadi alhamdulillah 125 tidak berkurang sama sekali, karena valid. Banyak desa lain yang jumlahnya jor-joran itu menggunakan non-DTKS belum tervalidasi, nah akhirnya pemerintah itu mungkin mengurangi bantunanya,” ujar Abdul Khodir kepada Republiqu.com saat dikonfirmasi di tempat kerjanya, Kamis (16/7/2020).

Menurutnya, saat ini data yang digunakan dalam penyaluran bantuan tersebut merupakan data lama, sehingga terkesan masih tidak tepat.

“Saya tidak mengerti, sebenarnya kalau puskesos ini belum berfungsi sama sekali untuk bantuan ini nih, belum. Menurut saya data yang masih digunakan itu, masih data Basis Data Terpadu (BDT) yang lama. Makanya punten, masih ada orang yang meninggal datanya ada. Orang kan tidak tahu ada yang dalam 5 tahun ekonominya meningkat luar biasa, tapi masih dapat bantuan. Kalau kita disini kan hampir tidak ada peralihan,” tuturnya.

Adapun mengenai rincian bantuan yang diperoleh Desa Panembahan, Abdul Khodir menjelaskan untuk Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD) sebanyak 142 KK, Bantuan Sosial Tunai (BST) 61 KK, Bantuan Provinsi DTKS 125 non-DTKS 2 serta untuk tahap II Panembahan mendapat tambahan 1 KK untuk non-DTKS dan untuk bantuan sosial dari Pemkab Cirebon sebanyak 31 kk. Sedangkan, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) incloud dengan bantuan PKH sebanyak 54 kk.

Ia menduga, penyebab sedikitnya bantuan sosial yang diterima desa Panembahan, karena rata-rata penduduk desa tersebut menggunakan daya tegangan listrik 900 watt. Sehingga jika dikategorikan, rata-rata yang menggunakan daya tersebut adalah masyarakat menengah keatas, atau tidak masuk dalam kategori masyarakat ekonomi rendah.

“Mungkin mengacu pada sensus ekonomi BPS, kemudian mengacu kepada PLN KWH terpasang kan gitu. Mungkin bagi desa yang masih banyak menggunakan KWH 450 watt digelontorkan banyak mungkin begitu. Nah di Panembahan kebanyakan daya tegangan listrik yang dipakai di angka 900 watt, begitu,” pungkasnya. (on)

LEAVE A REPLY

one × two =