KOTI Bangkitkan Kembali Permainan Tradisional Era 90an

KOTI Bangkitkan Kembali Permainan Tradisional Era 90an

747
0
BERBAGI
Pengurus KOTI memberikan arahan tentang berbagai permainan tradisional yang sudah mulai ditinggalkan oleh generasi sekarang.

CIREBON (R) – Komunitas Olah Raga Tradisional Indonesia (KOTI) bekerja sama dengan SMK Caruban Nagari desa Cisaat kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon, menggelar sosialisasi olah raga tradisional kepada murid-murid SMK Caruban Nagari, Minggu (9/12/2018).

Dalam kegiatan tersebut, para peserta diberikan kesempatan untuk memainkan kembali permainan – permainan tradisional, yang sudah jarang dimainkan dikarenakan tergerus oleh permainan elektronik dan modern.

Sekertaris umum KOTI kabupaten Cirebon, Taufik Hidayat Suharto mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu program KOTI dalam upaya melestarikan permainan – permainan dan olah raga tradisional yang mulai tergeser oleh permainan modern.

“KOTI sendiri hadir bermula dari bentuk keprihatinan terhadap permainan tradisional yang mulai ditinggalkan dan digantikan dengan permainan modern. Padahal manfaatnya kurang baik. Makanya kami dan komunitas yang lain, mencoba membangkitkan kembali permainan tradisional ini,” terangnya.

Taufik juga menjelaskan, pentingnnya untuk melestarikan permainan atau olah raga tradisional, agar permainan tersebut tidak punah dan tergerus oleh permainan modern kemajuan teknologi.

“Permainan tradisonal sarat akan kultur dan warisan budaya bangsa. Dengan permainan tradisional, kita banyak belajar terutama kekompakan dan juga interaksi sosial masyarakat. Permainan tradisional juga bisa membuat tubuh kita lebih sehat dan bugar, karena tubuh lebih aktif sama seperti berolah raga,” tambahnya.

Sementara itu guru SMK Caruban Nagari, Siti Nuryani mengapresiasi kegiatan sosialisasi permainan tersebut. Karena menurutnya dengan kegiatan tersebut, dapat memberikan dampak positif bagi para murid dan meningkatkan kecerdasan serta daya pikirnya.

“Dengan permainan tradisional, para murid dapat mengisi waktu kosong mereka, dengan memainkan berbagai permainan. Sehingga konsentrasi dan kebugaran mereka, bisa terus terjaga. Lewat permainan tradisioanal juga dapat membuat mereka lebih akrab satu sama lain dan mampu mendidik sifat kerjasama,” terangnya.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya dilaksanakan pada momen – momen tertentu saja, tapi ada agenda berikutnya yang dilaksanakan di sekolahnya.

“Memang gadget jika digunakan untuk bermain game, dampaknya kurang baik, apalagi jika sudah kecanduan. Melalui permainan tradisional ini, manfaatnya sangat besar buat mereka. Itulah kenapa pihak sekolah juga melarang penggunaan gadget di lingkungan sekolah. Tujuannya agar lebih fokus,” ujarnya.

Ia juga berharap, ada kesadaran dari para generasi muda, untuk menularkan kembali permainan tradisional yang dulu sempat hits, kepada anak – anak dilingkungan sekitar tempat tinggalnya masing – masing. Tunjuannya, tentu untuk memperkenalkan kembali permainan tradisional, agar semakin digemari oleh anak – anak.

“Sebenarnya banyak permainan tradisional yang hits diera tahun 90an. Ada petak umpet, lompat tali, jongkokan, grobak sodor dan masih banyak lagi permainan tradisional lainnya. Ini adalah tugas kita bersama agar para generasi muda kita lebih kreatif, bersosialisasi dan lebih sehat. Dibandingkan hanya menyendiri bermain gadget,” pungkasnya. (ta)

Penyunting : wanto

LEAVE A REPLY

19 − one =