KOTI Adakan Workshop Permainan Tradisional Pada Guru SD

KOTI Adakan Workshop Permainan Tradisional Pada Guru SD

390
0
SHARE
Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Cirebon antusias mengikuti workshop olahraga permainan tradisional yang diselenggarakan oleh KOTI.

CIREBON (R) – Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia (KOTI) Kabupaten Cirebon, menggelar kegiatan workshop olahraga tradisional kepada guru – guru olahraga sekolah dasar se – Kabupaten Cirebon, Kamis (24/1/2019).

Kegiatan tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan dan memperkenalkan kembali, olahraga – olahraga tradisional yang sudah mulai langka, untuk dimainkan di tengah gempuran permainan modern dan permainan – permainan berbasis digital seperti saat ini.

Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga diberikan kesempatan untuk mencoba dan memainkan permainan – permainan tradisional, yang sudah dipersiapkan oleh panitia kegiatan. Dengan tujuan, peserta kegiatan dapat mengenang dan merasakan kembali permainan tersebut, yang sudah lama mereka tidak mainkan. Harapannya agar para peserta dapat menerapkan kembali kepada anak didiknya di masing -masing sekolah.

Sekertaris Jendral KOTI, Khoirul Umam mengatakan, kegiatan sosialisasi dan workshop tersebut merupakan salah satu tujuan KOTI dalam melakukan sosialisasi, juga memperkenalkan lagi olahraga tradisional, yang sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat, yang berganti dengan permainan digital dan modern seperti yang dilakukan di lingkungan pendidikan sekolah dasar.

“Guru olahraga ini memiliki ruang yang sangat luas, untuk mensosialisasikan dan memperkenalkan olahraga, atau permainan -permainan tradisional ini, kepada anak didiknya di sekolah. Bagaimana pun guru merupakan penggerak olahraga tradisional khususnya di sekolah. Sehingga para guru juga mampu menyampaikan nilai – nilai edukasinya, supaya anak – anak generasi sekarang tidak lupa, akan permainan tradisioal serta mampu memainkanya,” terangnya kepada awak media.

Dirinya menuturkan, KOTI sendiri lahir dari bentuk keprihatinan akan semakin jarangnya olahraga tradisional, untuk dimainkan oleh generasi muda sekarang. Bahkan olahraga atau permainan – permainan tradisional tersebut, cenderung mengalami kepunahan.

“Para pencetus kami ini, merupakan para akademisi olahraga yang prihatin akan kebugaran anak-anak jaman sekarang, yang banyak diantara mengalami obesitas, karena kurangnya bergerak. Sehingga menimbulkan penyakit – penyakit tidak menular, yang dapat menimbulkan kematian. Kami juga lahir karena keprihatinan kami, akan permainan tradisional yang sudah jarang dimainkan lagi oleh masyarakat khususnya anak – anak,” tuturnya.

Khoirul Umam juga menambahkan, di Indonesia permainan – permainan tradisional jumlahnya sangat banyak dan beragam. Setiap daerah memiliki cara dan nama yang berbeda – beda, sehingga menjadi ciri khas daerah itu. Hal tersebut merupakan penggambaran bahwa Indonesia sangat kaya akan kultur dan budaya.

“Dari upgrade data kami, ada sekitar 2600 permainan tradisional di Indonesia. Tentunya dengan ciri dan nama yang berbeda. Sedangkan kami sendiri, sudah membakukan 11 permainan dan untuk acara ini kami sosialisasikan 6 permainan,” tambahnya.

Pihaknya juga mengajak masyarakat, untuk bersama – sama menjaga dan melestarikan permainan – permainan tradisional, dimulai dari lingkungan sekitar. Kepada pemerintah juga pihaknya meminta untuk mendukung permainan tradisional, sesuai amanat undang – undang.

“Kami berharap semuanya dapat mendukung olahraga tradisional ini, baik pemerintah maupun masyarakat. Sehingga kita bisa merubah sebuah tradisi menjadi prestasi. Mudah – mudahan salah satu
olahraga kita, bisa menjadi budaya dunia dan di pertandingkan di salah satu cabang olahraga di olimpide,” pungkasnya.

Sementara itu Sukardi guru olahraga SDN 4 Palimanan Timur mengatakan, dirinya sangat menyambut baik dengan adanya sosialisasi dan workshop tersebut. Pihaknya menilai dengan kegiatan tersebut, dapat membangkitkan lagi kenangan permainan – permainan yang pernah ia mainkan sewaktu kecil.

“Disini kami jadi lebih tau tentang permainan – permainan tradisinal yang dulu kami mainkan. Ternyata ada tata caranya dan juga ada sistem penilaiannya. Bahkan ada juga yang sudah mulai dipertandingkan. Ini memang merupakan PR kita bersama, agar permainan ini bisa terus lestari, karena ini merupakan warisan budaya bangsa,” tutupnya. (ta)

Penyunting : wanto

LEAVE A REPLY

19 − seven =