Kembalikan Siswanya Ke Orangtua, SMPN 1 Karangsembung Mengaku Terpaksa

Kembalikan Siswanya Ke Orangtua, SMPN 1 Karangsembung Mengaku Terpaksa

653
0
BERBAGI
Pihak sekolah SMPN 1 Karangsembung mengaku sangat terpaksa mengembalikan siswa A ke orangtuanya, karena sudah tidak bisa lagi di didik. Perkembangan akademiknya pun kecil sekali.

CIREBON (R) – Dikembalikannya A salah satu siswa SMPN 1 Karangsembung Kabupaten Cirebon ke orang tuanya, memicu pro dan kontra di masyarakat. Sejak peraturan zonasi diberlakukan, pemerintah dengan tegas melarang pihak sekolah mengeluarkan siswa dengan alasan dan dalih apapun. Bahkan dengan peraturan tersebut, pihak sekolah juga tidak boleh menolak siswa disabilitas atau yang biasa disebut anak berkebutuhan khusus, untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Terkait persoalan yang menimpa A tersebut, LSM GMBI Distrik Cirebon Raya juga ikut mendatangi pihak sekolah SMPN 1 Karangsembung, untuk mengklarifikasi kebenaran informasi tersebut. Namun sayangnya, menurut Futikh, yang saat itu mewakili LSM GMBI Distrik Cirebon Raya mengatakan, Kepala SMPN 1 Karangsembung yaitu Agus Nuriadi sedang tidak ada ditempat.

“Menurut keterangan petugas piket, kepala sekolah datang sekitar jam 10an ke sekolah. Terus gak berselang lama, pergi lagi. Katanya mau takziyah. Jadi akhirnya kami minta diarahkan menemui Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan, untuk mengklarifikasi masalah tersebut,” jelasnya, Selasa (28/1/2020).

Dalam klarifikasinya tersebut, Futikh yang bertemu langsung dengan Heru, selaku Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMPN 1 Karangsembung, mengajukan sejumlah pertanyaan. Inti yang paling mendasar dari pertanyaan itu adalah, alasan pihak sekolah mengembalikan siswanya kepada orang tua.

“Kedatangan kami hanya sebatas klarifikasi untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya terjadi. Saya sangat yakin, pihak sekolah sudah sangat faham dengan larangan mengeluarkan siswanya dengan alasan apapun. Makanya kami datang untuk mendengar sendiri pengakuan dari pihak sekolah supaya jelas,” terangnya.

Pada agenda klarifikasi tersebut, Heru selaku Wakasek Kesiswaan menerangkan, siswa yang berinisial A berdasarkan informasi di lingkungan rumahnya, memang seharusnya yang bersangkutan tidak bersekolah di sekolah formal. Tetapi karena sistem zonasi, maka siswa berhak memilih sekolah yang terdekat, dengan tempat tinggalnya.

“Karena sistem peraturan zonasi itu, pihak sekolah tidak boleh menolak siswa. Apalagi masyarakat yang dekat dengan lingkungan sekolah. Makanya ketika A masuk ke sekolah ini, kami pun memilihkan wali kelas yang paling perhatian. Yang tingkat kesabarannya paling tinggi diantara lainnya,” terang Heru.

Dikatakan Heru, Sekolah Dasar yang mendidik A pun tidak merekomendasikan ke SMPN 1 Karangsembung, melainkan ke SMP PGRI. Tetapi menurutnya, orang tuanya lah yang menginginkan anaknya bersekolah di SMPN 1 Karangsembung. Namun karena sistem zonasi tadi, akhirnya menurut Heru pihak sekolah tidak bisa menolak siswa itu.

“Awalnya seperti itu mas. Karena sistem zonasi harus mengutamakan masyarakat setempat dan tidak boleh ada penolakan. Tetapi sistem itu pun tetap ada evaluasi. Selama satu semester, siswa A tersebut di evaluasi perkembangannya. Kalau kata gurunya, siswa ini susah mengikuti pelajaran. Bahkan waktu ujian pun, soal dan jawabannya pun tidak nyambung semua,” ungkapnya.

Untuk memberikan informasi yang lebih jelasnya, Heru pun memanggil Wali Kelas siswa tersebut dan juga Guru BK yang membimbing anak tersebut. Bahkan pihak sekolah pun mengaku memiliki data – data yang lengkap, terkait perkembangan pendidikan si A. Diakuinya juga pihak sekolah sudah siap menunjukkan data – data siswa itu, apabila diperlukan untuk menerangkan persoalan tersebut.

“Kami sudah melakukan yang terbaik semampu kami. Mungkin mengembalikan lagi ke orangtuanya adalah jalan yang paling baik. Kami sudah memanggil orang tuanya. Bahkan sempat membuat perjanjian, antara siswa, orang tua dan guru BK. Surat perjanjian tersebut berisi kesiapan untuk mengundurkan diri apabila yang bersangkutan tidak ada peningkatan dan sering melanggar peraturan sekolah. Jadi semestinya, itu bisa saling dimengerti dan dipahami oleh semua pihak,” paparnya.

Sementara itu, berdasarkan keterangan Diana selaku Wali Kelas si A mengungkapkan, muridnya itu adalah anak yang spesial. Menurutnya si A berbeda dengan anak muridnya yang lain, susah untuk diarahkan. Bahkan dalam proses belajar mengajarnya pun, sangat jauh tertinggal dengan teman – temannya yang lain.

“Berbagai cara sudah saya lakukan supaya siswa itu bisa memperbaiki dirinya. Bahkan banyak laporan, bahwa si A itu sering menjahili teman – temannya dan berkata – kata kotor. Tapi saya selalu meminta mereka untuk memaafkan si A ini. Orangtuanya juga sudah diberitahu. Jadi kami harus bagaimana lagi. Masalahnya ini banyak yang perlu diperbaiki, seperti sikapnya, perilakunya, minat belajarnya. Pokoknya masih banyak lagi yang lainnya,” pungkas Diana. (is)

LEAVE A REPLY

twelve − 11 =