GMBI KSM Talun Pertanyakan Proses Pemakaman Pasien Covid RS Pertamina

GMBI KSM Talun Pertanyakan Proses Pemakaman Pasien Covid RS Pertamina

418
0
BERBAGI
Proses pemakaman ibu KST warga Ciperna, pasien RS Pertamina Cirebon.

CIREBON (rq) – Penanganan pemakaman pasien Covid-19 oleh RS Pertamina Kabupaten Cirebon menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Kecamatan Talun.

Hal tersebut terungkap dari pengakuan tokoh masyarakat setempat yang menyaksikan langsung proses pemakaman itu.

Kepada Republiqu.com, H. Mamad Nurahpriana selaku Ketua KSM GMBI Kecamatan Talun Distrik Cirebon Raya, sekaligus tokoh masyarakat setempat mengungkapkan, kejadian itu dialami langsung oleh salah satu warga Ciperna Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon yang berinisial KST.

“Jadi kronologisnya, ibu KST ini sakit dan dirawat di rumah sakit Pertamina Klayan. Pertama masuk itu hari Senin. Tapi karena harus di swab dulu, ibu KST ini di isolasi di ruang IGD RS Pertamina. Sambil menunggu hasil swab, ternyata hari ketiga ibu KST tidak kuat dan meninggal dunia,” jelasnya, Kamis (14/1/2021).

H. Mamad yang akrab disapa Ade Bewok juga mengungkapkan, saat proses pemulasaran pun pihak keluarga dilarang menemui pasien dengan alasan protokol kesehatan. Padahal, menurutnya saat itu belum ada hasil dari laboratorium yang menyatakan bahwa pasien, ibu KST tersebut positif covid-19.

-Advertorial-

“Jika dilihat dari riwayat penyakitnya, ibu KST ini menderita penyakit gangguan ginjal. Bahkan keluarganya juga bilang, ada hasil swab dari Muhammadiyah, hasilnya negatif. Karena Ibu KST ini, sebelum dirawat di RS Pertamina, berobat jalannya di RS Muhammadiyah,” paparnya.

Tak hanya itu, H. Mamad juga mempertanyakan terkait proses penanganan pemakaman yang dilakukan oleh pihak RS Pertamina untuk pasien covid-19. Karena menurutnya, proses pemakaman yang dialami oleh pasien ibu KST tersebut, diduga tidak sesuai dengan standar penanganan covid-19 yang dianjurkan oleh pemerintah.

“Ibu KST ini meninggal Rabu (13/1/2021) pagi menjelang siang sekitar jam 11 atau jam 12an. Bahkan hasil swabnya pun saat itu belum keluar. Apakah positif covid atau negatif, keluarga juga belum tau. Tapi pemulasarannya dilakukan secara prosedur covid. Keluarga tidak diperbolehkan ketemu dengan pasien. Sampai proses pemakamannya juga dilakukan dengan prosedur covid,” ungkapnya.

Namun menurut H. Mamad, ada yang janggal terkait proses pemakaman pasien ibu KST tersebut. Pasalnya pada saat pemakaman dilaksanakan, tim gugus tugas setempat, justru tidak mengetahui adanya pemakaman pasien covid di wilayah kecamatan Talun.

“Keluarga itu bingung, ngedown (tertekan prisikisnya) karena ibu KST ini dimakamkan dengan prosedur covid. Bahkan kuwu Ciperna, yang saat itu hadir di pemakaman juga kaget. Kok tidak ada pemberitahuan dari puskesmas. Padahal pemerintah desa juga termasuk tim satgas penanganan covid di tingkat desa,” terangnya.

Yang mengejutkan lagi, menurut H. Mamad, petugas pemakaman pasien ibu KST ini meminta sejumlah uang kepada pihak keluarga pasien. Namun tidak diketahui permintaan uang tersebut, digunakan sebagai apa dan untuk apa.

“Katanya proses pemakaman secara standar covid, tapi petugas yang menguburnya tidak menggunakan APD lengkap. Udah gitu, selesai penguburan, keluarga pasien diminta uang sama petugasnya. Sebenarnya, prosedurnya tuh seperti apa,” tegas H. Mamad.

H. Mamad Nurhapriatna saat klarifikasi dengan Humas RS Pertamina Cirebon.

Untuk mengetahui dengan jelas persoalan tersebut, H. Mamad juga mendatangi langsung RS Pertamina Cirebon untuk melakukan klarifikasi, Kamis (14/1/2012). Bahkan ia juga ditemui langsung oleh Muhammad Nur, selaku Humas RS Pertamina Cirebon.

Dalam kesempatan tersebut, pihak RS Pertamina Cirebon mengakui bahwa ibu KST adalah pasiennya yang meninggal dunia dan seluruh proses penanganannya dilakukan secara prosedur covid.

Namun Humas RS Pertamina Cirebon tersebut menjelaskan, pihaknya hanya sebatas memberikan pelayanan secara medisnya saja. Terkait pemulasaran dan proses pemakamannya, pihak RS Pertamina Cirebon menyerahkan penanganannya kepada pihak RSUD Waled.

Terkait penjelasan tersebut, H. Mamad yang juga sebagai Ketua KSM GMBI Kecamatan Talun Distrik Cirebon Raya, sebagai fungsi kontrol sosial, akan terus menelusuri persoalan tersebut sampai dengan tuntas. Bahkan ia juga berencana akan membawa persoalan tersebut kepada Bupati Cirebon dan DPRD Kabupaten Cirebon. (is)