Eddy Suzendy : Pengguna Transportasi Umum Menurun Drastis

Eddy Suzendy : Pengguna Transportasi Umum Menurun Drastis

251
0
BERBAGI
Kepala Bidang Keselamatan Dinas Perhubungan Kabupaten Cirebon, H. Eddy Suzendy melakukan monitoring kelancaran arus lalu lintas sejumlah jalan di Kabupaten Cirebon.

CIREBON (rq) – Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang tengah melanda, rupanya sudah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tidak hanya sisi ekonomi saja yang terganggu, dunia transportasi pun, ikut merasakan dampak akibat pandemi virus ini.

Kepala Bidang Keselamatan Dinas Perhubungan Kabupaten Cirebon, Eddy Suzendi., A.Ma., PKB., SH. mengatakan, dengan adanya pandemi Covid-19 tersebut, sarana transportasi juga tentunya sangat merasakan dampak. Hal tersebut menurutnya tergambar jelas, dengan menurunnya pengguna jasa transportasi.

“Dengan adanya anjuran stay at home dan sekolah diliburkan pengguna transportasi umum, sangat menurun drastis. Karena pandemi Covid-19 ini,  masyarakat enggan untuk naik kendaraan umum. Masyarakat khawatir akan tertular dalam kendaraan umum tersebut,” jelasnya, Senin (11/5/2020).

Kabid Keselamatan Dishub ini juga menjelaskan, pada prinsipnya pemerintah tidak serta merta menutup begitu saja sarana transportasi. Menurutnya, seperti angkutan-angkutan yang di prioritaskan untuk sarana angkutan mudik, ada kriteria-kriteria tertentu yang memang harus dipenuhi.

“Harus ada penerapan standar kesehatan yang harus dipenuhi, diantaranya pengecekan kesehatan dari mulai penumpang itu datang di terminal, salah satunya pengecekan suhu tubuh. Apakah ada penyakit bawaan atau tidak. Jadi pemerintah sudah memberikan instruksi ada kelonggaran tentang mudik. Tetapi bukan berarti mudik itu dilegalkan, mudik tetap dilarang. Ada kriteria-kriteria aturan mudik yang memang diterapkan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, terkait mekanisme aturan mudik itu sendiri, semuanya diatur oleh pemerintah pusat. Sebagai aparatur di daerah, pihaknya sangat mendukung program tersebut. Itu dibuktikan dengan didirikannya cek poin, melakukan penyekatan dengan PSBB dan beberapa langkah lainnya.

“Transportasi tidak bisa berhenti meskipun dalam situasi Covid 19, bahkan saat PSBB atau lockdown, salah satu yang diberikan kelonggaran adalah angkutan logistik. Angkutan ini jelas sangat dibutuhkan masyarakat. Makanya pada saat penyekatan jalan pun, untuk kendaraan-kendaraan angkutan logistik kami tetap perbolehkan lewat,” tegasnya.

Eddy juga menambahkan, sebetulnya transportasi tidak bisa dilumpuhkan begitu saja. Transportasi harus tetap hidup. Transportasi harus tetap bergerak. Karena menurutnya, transportasi merupakan urat nadi perekonomian bagi negara dimana pun.

“Makanya Kementerian Perhubungan juga  dilema. Ketika menstop mudik, di satu sisi ada kebutuhan yang tidak bisa ditahan yaitu transportasi. Transportasi ini bukan hanya mengangkut orang mudik saja, tapi juga banyak orang yang memiliki kepentingan. Itulah kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah pusat, bahwa transportasi tidak boleh mati total,” tambahnya.

Kepada pemerintah pusat, ia juga berharap, ketika mengeluarkan kebijakan, tentunya harus dikaji terlebih dahulu secara mendalam. Seperti larangan mudik, kemudian ada kelonggaran. Hal tersebut juga, menurutnya harus di persiapkan segala sesuatunya.

“Terkait larangan mudik, kita semua sudah capek. Semuanya sudah bergerak di lapangan. Ternyata sekarang ada kelonggaran, yang sifatnya juga kita harus mendata. Mampu tidak teman-teman dilapangan ngecek orang tersebut satu persatu. Apakah dalam kepentingan dinas. Apakah orang itu memang ada keluarganya yang sakit. Tentunya itu harus terus diawasi ketika dia pulang ke daerah asalnya. Nah hal seperti ini lah, siap tidak teman-teman dilapangan. Karena pemerintah pusat hanya mengeluarkan kebijakan, tetapi personil mereka tidak ada di lapangan,” ungkapnya.

Pihaknya berharap, berbagai upaya dan kebijakan yang diterapkan pemerintah pusat dalam menanggulangi Covid 19, harus juga dibarengi dengan bentuk perhatian kepada pemerintah daerah. Terutama kesejahteraan seluruh pegawai lapangan, yang selama ini sudah bekerja ekstra keras dalam penanggulangan Covid-19.

“Selain andil pemerintah dalam upaya perang terhadap Covid-19, peranan aparatur pemerintah di tingkat paling bawah yaitu RT dan RW juga diperlukan. Mereka harus bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat, terkait corona. Bagaimana pencegahannya, tentang PSBB atau pun terkaitĀ  himbauan-himbauan pemerintah yang lain tentang Corona. Ini harus berjalan bersama. Tapi apabila ini tidak sejalan, kami khawatir upaya-upaya yang telah dilakukan, akan sia-sia dan berkepanjangan,” pungkasnya. (ta)

LEAVE A REPLY

seven + nine =