DPRD Cirebon Akan Bersurat Ke Pusat Tolak LGBT

DPRD Cirebon Akan Bersurat Ke Pusat Tolak LGBT

450
0
BERBAGI

Cirebon (R) – Aksi damai LSM GMBI Distrik Cirebon Raya menolak LGBT di Kabupaten Cirebon, disambut baik pihak DPRD Kabupaten Cirebon. Isu tersebut terus menggelinding bak bola salju. Semakin hari semakin membesar opini negatif yang berkembang di masyarakat.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Hj. Yuningsih mengatakan, permasalahan LGBT muncul dan menjadi isu dikarekan banyak yang menganggap itu tidak sesuai dengan nilai dan norma bangsa Indonesia, yang mayoritas beragama muslim.

“LGBT itu saya kira dari jaman dahulunya juga sudah ada. Tapi agama kita Islam, tidak membolehkan dan melarang hal itu. Indonesia mayoritas masyarakatnya Islam. Kita selaku orang Islam pasti menolak, karena itu tidak sesuai dengan ajaran agama Islam,” kata Yuningsih diruang kerjanya Rabu, (31/1/2018).

Dikatakannya, isu LGBT ini bukan isu yang baru. Menurutnya entah kebetulan atau tidak, di tahun politik ini isu tersebut semakin santer. Bahkan kabarnya beberapa fraksi di DPR RI mendukung dan memberi sinyal positif disahkannya RUU tersebut.

“Kita tidak mau menduga ke arah itu. Tapi yang jelas kami selaku pimpinan DPRD Kabupaten Cirebon, akan merapatkan permasalahan ini di Badan Musyawarah (Bamus, red) dan secepatnya akan menyurati pusat,” jelasnya.

Yuningsih juga menegaskan, dampak LGBT tersebut sangat membahayakan, karena LGBT menyasar ke generasi muda.  Berdasarkan data, LGBT berada di kisaran umur 17 sampai 35 tahun. Itu yang ditakutkan dapat merusak moral bangsa Indonesia.

“Generasi muda ini adalah calon penerus bangsa. Apa jadinya jika moralnya rusak dan menyimpang dari ajaran agama. Tentu dampaknya akan sangat membahayakan bagi negara kita. Apalagi negara Indonesia menganut ideologi pancasila. Pasti dengan tegas saya menolak itu,” ujarnya.

Untuk menangani permasalahan tersebut, dirinya meminta kepada dinas terkait, untuk melakukan pendataan secara akurat dan melakukan langkah antisipatif dalam mengatasi permasalahan LGBT di Kabupaten Cirebon.

“Data ini harus akurat. Jangan hanya saat seremonial saja dilakukan pendataan. Seperti hari HIV Aids atau semacamnya. Kita butuh data yang kongkrit. Minimalnya data tersebut bisa kita jadikan sebagai penentu arah pengambilan kebijakan, dalam sebuah sistem pemerintahan kedepan. Kita juga bisa buat perdanya tentang larangan itu jika dirasa perlu,” terangnya.

Yuningsih juga menjelaskan, LGBT adalah sebuah penyakit yang harus disembuhkan. Secara fisik mungkin tidak ada perbedaan dengan masyarakat pada umumnya. Namun secara psikis atau kejiwaannya, justru mereka memiliki kelainan.

“Ibarat sebuah penyakit, LGBT ini juga dapat dicegah. Utamanya di lingkungan keluarga. Tumbuh kembang anak ini awalnya dari keluarga. Berikan anak kita perhatian, kasih sayang dan juga pendidikan agama. Awasi pergaulannya dan batasi kebebasannya. Insyallah jalannya akan lurus, ” imbuh Yuningsih.

Dalam menyikapi permasalahan tersebut, dirinya juga berharap masyarakat bisa ikut serta dalam melakukan pencegahan ataupun deteksi dini, terkait perilaku menyimpang seseorang, di lingkungannya masing – masing.

“Dalam undang – undang perkawinan, sudah jelas disebutkan, syarat untuk menikah adalah berbeda jenis. Tidak ada perkawinan sejenis. Itu jelas hukumnya. Saya minta kepada masyarakat, tolong bantu menyadarkan mereka. Jika menemukan ada kejanggalan, segera laporkan ke pihak yang berwenang. Jangan hakimi mereka, kita sadarkan pemikirannya,” tandasnya. (Isno)

LEAVE A REPLY

four × 1 =