Distan Inventarisir Lahan Terdampak Banjir di Cirebon

Distan Inventarisir Lahan Terdampak Banjir di Cirebon

645
0
BERBAGI

Cirebon (R) – Musibah banjir yang menimpa sebagian wilayah di Kabupaten Cirebon beberapa hari terakhir, membawa dampak yang cukup memprihatinkan.

Bukan hanya ribuan rumah yang terendam banjir, harta benda, peternakan bahkan pertanian masyarakat, khususnya tanaman padi, juga ikut menjadi penyumbang kerugian yang timbul akibat musibah banjir tersebut.

Kepala dinas pertanian Kabupaten Cirebon, H. Ali Effendi mengatakan, salah satu wilayah dampak banjir yang cukup parah, adalah di wilayah Cirebon Timur. Dan saat ini, Dinas Pertanian (Distan, red)  sedang menginventarisir, lahan pertanian yang terdampak akibat musibah banjir.

“Berdasarkan data terakhir, lahan pertanian padi yang terdampak banjir di Kabupaten Cirebon, kurang lebih seluas 491 hektar. Lokasi tersebut tersebar di beberapa wilayah. Mulai wilayah barat hingga wilayah timur Cirebon,” ujarnya, Selasa, (28/2).

Dikatakan Ali, dari beberapa wilayah di Kabupaten Cirebon yang terdampak banjir paling parah, berada di wilayah Timur Kabupaten Cirebon, mulai dari wilayah Kecamatan Pangenan, Pasaleman, Pabuaran, Pabedilan, Losari, Waled, Ciledug dan Gebang.

“Khusus di wilayah Ciledug, areal terdampak banjir, banyaknya ke pemukiman penduduk. Ada beberapa areal pertanian yang terendam, tapi luasnya tidak banyak,” terang Ali.

Sementara itu Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Herman Hidayat menjelaskan, tanaman padi yang tenggelam karena terendam banjir maksimal 5 hari lamanya, rata – rata tidak akan bertahan dan mengalami kerusakan.

“Seandainya terendam, tapi daunnya masih kelihatan, mungkin itu bisa bertahan. Tapi kalau semuanya terendam, pasti padinya akan rusak,” jelas Herman.

Dikatakannya, ada 2 kategori resiko yang dialami para petani. Yang pertama adalah puso dan yang kedua adalah gagal tanam.

“Puso itu tanaman padi yang sudah berbuah, tapi belum matang, kemudian rusak, tidak bisa di panen, itu namanya puso. Sementara gagal tanam, yaitu padi belum berbuah, kemudian rusak, tidak bisa tumbuh berkembang dan mati, itu namanya gagal tanam,” ungkapnya.

Diterangkan Herman, berdasarkan laporan yang di terima dari para petugas di lapangan,  beberapa lahan pertanian yang terdampak akibat banjir diantaranya, desa Adidarma seluas 25 hektar, Wanakaya 15 hektar dan beberapa daerah lainnya.

“Di wilayah timur, kecamatan Pangenan, Losari, Gebang juga gagal tanam. Contohnya di desa Panggangsari kecamatan Losari, ada 12 hektar yang gagal tanam. Tapi untungnya yang 11 hektar, diasuransikan jadi bisa mengajukan klaim penggantian,” paparnya.

Kasie Tanaman Serelia bidang Tanaman Pangan, Iwan Mulyawan menambahkan, untuk di wilayah utara seperti Kecamatan Kapetakan, Suranenggala, tidak ada laporan lahan pertanian yang rusak, akibat masalah banjir.

“Untuk di wilayah barat, pernah terjadi di wilayah Gegesik, Bayalangu, air naek tapi langsung surut lagi. Rata – rata umur padi antara 20 sampai 30 hari. Ada juga yang 40 hari, seperti di Karangsembung, Karangwareng, tapi sudah aman. Terendam tidak lama, kemudian sudah surut lagi,” jelasnya.

Diterangkan Iwan, tanaman padi yang terendam 2 sampai 3 hari, kemudian surut, dimungkinkan masih bisa tumbuh lagi. Tapi harus dilakukan pengamatan secara intensif, karena biasanya hama optnya cenderung meningkat, setelah terendam oleh banjir.

“Awal munculnya wereng atau hama tanaman, umumnya dari lokasi pasca banjir, karena suhu iklim dan kondisinya memungkinkan untuk bertumbuhnya hama wereng. Alhamdulilah di tahun sekarang punya stok obat-obatan, yang dikirim dari kementerian melalui dinas Propinsi. Jadi untuk masalah hama bisa ditanggulangi,” ulasnya.

Dirinya menyarankan kepada para petani, yang membutuhkan obat-obatan pembasmi hama, bisa menghubungi UPT yang ada di wilayahnya, agar dapat mengajukan bantuan ke dinas pertanian.

“Silahkan untuk para petani yang membutuhkan obat – obatan pembasmi hama, hubungi UPT untuk membuat pengajuan bantuan ke dinas. Kita akan berikan, supaya hama wereng tidak menyerang lahan pertanian,” himbaunya.

Iwan juga mengapresiasi kesadaran petani untuk ikut asuransi. Setiap tahun jumlahnya terus mengalami kenaikan. Namun sayangnya, untuk tahun 2018 ini agak mengalami pembatasan oleh pihak jasindo karena menunggu pedum dan juknis yang baru tahun 2018 sekarang.

“Kemarin yang terkena banjir sebenarnya ingin mendaftar, tapi menunggu pedum dan juknis, jadi masih tertahan dari jasindonya. Pada tahun 2017 kemarin, jumlah petani yang daftar asuransi membludak dan yang mengklaim juga banyak, karena puso gara – gara wereng,” ungkap Iwan.

Dirinya juga berharap, kedepan masalah pertanian bisa berkurang dan produktifitasnya bisa mengalami peningkatan.

“Lewat kepala dinas pertanian, kami selalu melaporkan perkembangan yang ada di lapangan. Kedepan mudah – mudahan tidak ada lagi permasalahan yang membuat petani mengalami kerugian,” pungkasnya. (Isno)

LEAVE A REPLY

9 + 17 =