7 Perangkat Desa Distafkan, LSM BARET Minta Audensi Ke Pemdes Kali Mekar

7 Perangkat Desa Distafkan, LSM BARET Minta Audensi Ke Pemdes Kali Mekar

559
0
BERBAGI
Ketua LSM BARET Kabupaten Cirebon, Satori (tengah) bersama dengan sejumlah jajaran pengurusnya.

CIREBON (rq) – Perputaran rotasi jabatan 7 perangkat desa Kali Mekar Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon, menimbulkan persoalan. Pasalnya, rotasi jabatan 7 perangkat desa Kalimekar tersebut, diduga sarat dengan muatan politik dan adanya kepentingan sejumlah pihak yang mungkin menginginkan jabatan tersebut.

Ketua DPW Lembaga Swadaya Masyarakat Barisan Rakyat Ekonomi Tertinggal (LSM BARET) Kabupaten Cirebon, Satori kepada Republiqu.com mengungkapkan, pihaknya berencana melakukan audensi dengan pemerintah desa Kalimekar terkait mekanisme rotasi jabatan 7 perangkat desa tersebut.

“Kami menduga perputaran rotasi jabatan 7 perangkat desa Kalimekar itu, cuma sebatas formalitas saja, supaya mereka turun dari jabatannya. Kemudian selanjutnya, dengan kekuasaannya, kuwu mengangkat orang-orang terdekatnya untuk menggantikan posisi jabatan yang kosong itu,” ungkapnya, Jum’at (21/8/2020).

Satori menduga, rotasi jabatan 7 perangkat desa yang lama tersebut, erat kaitannya dengan politik balas budi, yang mungkin disepakati oleh calon kuwu pada masa itu, dengan para tim suksesnya. Sehingga, ia menduga, ketika kuwu yang didukungnya itu terpilih, sang kuwu harus memenuhi janji politiknya kepada para tim suksesnya tersebut.

“Ini masih sebatas dugaan dan analisa saya. Tapi yang pasti arahnya jelas mungkin kesana. Maka dari itu, kami LSM BARET akan kroscek semuanya dalam audensi. Apakah ada siasat pengelabuhan aturan ? atau seperti apa ?. Tentu semuanya akan kita kupas tuntas dalam audensi. Yang pasti segala mekanisme telah diatur dalam peraturan Perundang-undangan,” paparnya.

Sementara itu, Warsim Edy Hidayat alias Pe’ong, yang juga pernah menjabat BPD desa Kalimekar mengungkapkan, sepengetahuan dirinya, sebanyak 7 orang perangkat desa tersebut dirotasi menjadi staf pada bulan April. Lalu menurutnya, selang beberapa harinya, Kuwu Kalimekar kemudian mengangkat 5 orang pilihannya menjadi perangkat desa, untuk mengisi jabatan yang kosong.

“Iklim politiknya, kelihatan sekali. Yang anehnya lagi, 7 perangkat desa yang di stafkan ini, pekerjaannya jadi tidak jelas. Seolah-olah kaya dibuat tidak nyaman. Bahkan lucunya lagi, penghasilan tetap (siltap) yang biasanya setiap bulan, katanya itu di rolling. Misalnya, bulan Agustus siltapnya turun ke A, nanti bulan depannya ke B, begitu seterusnya, jadi digilir,” ujar Pe’ong.

Ia juga mengungkapkan, sepengetahuannya untuk 5 perangkat desa Kalimekar yang baru tersebut, diduga terpilih tanpa melalui mekanisme yang semestinya. Pasalnya, ia tidak pernah mengetahui adanya proses pembentukan panitia seleksi perangkat desa Kalimekar.

“Sepengetahuan saya sebagai masyarakat asli desa Kalimekar, belum pernah mendengar ada pembentukan panitia seleksi perangkat desa Kalimekar. Jadi dugaan saya, 5 perangkat desa yang baru ini, dipilih berdasarkan pertimbangan kuwu pribadi. Bisa jadi atas dasar kedekatan,” pungkasnya. (is)

LEAVE A REPLY

seventeen − fourteen =